Annyeong ^^
Siapa yang lagi nunggu part kelanjutannya? Ayo angkat biasnya masing-masing! (?) kekekeke
Okelah langsung aja ya...., check this out!! ^^
Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie)
-Shin Dong-hee as Shindong as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBoom')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi
-Henry as Henry (Eomma from Heenim)
-Zhoumi as himself
Summary : Atas usaha Yesung, akhirnya Hangeng dan Heechul kembali bersatu, dan Wookie tidak jadi lenyap dari kehidupan. Shindong Imo akhirnya juga bisa berubah dan menyayangi Yesung, Yesung pun sebaliknya. Setelah Wookie mengajak Yesung jalan-jalan, mereka pergi ke gedung SME untuk Wookie bisa kembali lagi ke masanya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
6 Juli 1990....
Pagi hari sudah tiba. Yesung meraba kening Wookie.
"Masih dingin," gumam Yesung.
Semalaman Wookie sama sekali tidak bangun. Yesung menatap Wookie lagi. Dia tahu bahwa Wookie tidak akan bertahan lama lagi. Yesung pun bangkit dari duduknya.
"Aku berjanji pada Noona..., kau akan pulang hari ini."
Lalu Yesung meninggalkan sebuah pesan untuk Wookie, berlari keluar rumah, mengambil sepeda yang diparkir, dan pergi menuju rumah Appanya Wookie. Yesung mengayuh sekuat tenaga. Setibanya di depan rumah Hangeng, dia turun dari sepeda dan menggedor pintu rumah itu berkali-kali. Hangeng keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Ne?" tanyanya bingung. Ia heran melihat ada anak kecil berdiri di depan rumahnya.
"Kau harus pergi menemuinya!" teriak Yesung.
"Mwo? Nuguseyo?"
"Itu tidak penting. Kau harus pergi menemui Heenim. Ijen! Kau harus menemuinya untuk menyelamatkan Wookie Noona. Wookie Noona sedang skarat!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Nuguseyo? Bagaimana kau bisa tau tentang Heenim?"
Tanpa pikir panjang, Yesung langsung menarik tangan Hangeng ke arah motornya.
"Temui Heenim sekarang! Kajja!"
"Tetapi....!" seru Hangeng yang masih bingung.
"Kau mencintai Heenim bukan? Kau harus mengatakan perasaanmu sekarang pada Heenim. Apapun yang terjadi!"
"Hhh..., Heenim tidak mau menemuiku."
"Geureom, kau menyerah begitu saja? Hanya seginikah rasa cintamu pada Heenim?"
"Ya! Nan jeongmal geunyeoreul sarang!"
"Geureom, pergi dan katakan padanya!" desak Yesung.
"Arasseo. Aku pergi!" kata Yesung sambil menaiki motornya. Yesung pun menjadi lega. Sebelum pergi, Hangeng berbalik menatap Yesung lagi.
"Kau sebenarnya siapa? Apa aku mengenalmu?"
"Sudahlah..., tidak ada waktu untuk menjelaskannya."
Tak berapa lama kemudian, Hangen melesat pergi dengan motornya. Sedangkan Yesung pergi dengan sepedanya untuk balik ke rumah.
"Noona..., bertahanlah!" ucapnya dalam hati. Ketika Yesung memasuki jalan rumahnya, gerombolan anak 'BumBOOM' menghalangi jalannya. Yesung pun turun dari sepedanya.
"Annyeong, Yesung-ah. Sudah lama kita tak bertemu. Kau masih mengingatku bukan?" sapa Leader 'BumBoom', Kibum.
"Sial! Aku tidak bawa uang hari ini!" umpat Yesung dalam hati. Ia panik setengah mati.
"Dimana penjagamu hari ini, hhah? Dia sudah pergi ya? Kau tidak bisa menghindari kami selamanya," sambung anak yang paling tinggi, Zhoumi.
Mereka berkerumunan mendekati Yesung. Tiga orang di antara mereka menendang sepeda Yesung sampai rusak. Yesung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bersiap-siap menerima pukulan.
****************************************************************
Sementara itu, di kamarnya Heenim duduk di meja belajarnya dengan kesal. Matanya memandang seuntai kalung. Diangkatnya kalung pemberian Hangeng dua hari yang lalu.
"Aku benci kamu, Hangeng!" katanya dengan nada kesal pada kalung itu.
"Waeyo? Waeyo kau menghianatiku? Mengapa hatiku bisa sesakit ini? Saat aku putus dengan Donghae, aku hanya merasa kesal. Tetapi, saat aku melihatmu memeluk seorang yeoja lai, hatiku terasa sakit," seru Heenim. Heenim kemudian membuka laci mejanya dan menaruh kalung itu di sana. Seakan-akan tindakan itu bisa mengubur kenangannya bersama Hangeng. Saat hendak menaruh kalung itu, Heenim melihat sebuah buku. Ia mengambilnya dan membukanya. Ternyata buku itu adalah buku tahunan waktu SD dulu.
"Aku sudah lama tidak membuka buku ini," katanya dalam hati. Di dalam buku tersebut terdapat biodata semua teman-teman SD-nya. Ia membuka beberapa lembar halaman dan kemudian ia temukan biodata milik dirinya sendiri. Halaman demi halaman dibukanya, raut wajah teman-teman SD-nya kembali lagi bermunculan. Saat hendak menutup buku tahunan tersebut. Heenim melihat halaman terakhirnya. Ia tidak pernah melihat halaman itu sebelumnya.
"Mwo? Siapa yang mengisi pada halaman terakhir buku ini?" tanyanya penasaran. Ia melihatnya, dan seketika itu juga tercengang. Tatapan matanya tertuju pada bagian cita-cita. Heenim menutup wajahnya dan menangis. Buku tahunan itu tetap terbuka pada halaman terakhirnya. Halaman tersebut bertuliskan :
Nama : Hangeng
Umur : 12 tahun
Hobi : Membaca buku
Cita-cita : Ingin membuat Heenim tersenyum dan selalu bahagia
****************************************************************
Satu jam kemudian....
Hangeng bergegas turun dari motor sesampainya di rumah Heenim. Dia berhenti di depan pintu pagar dan menarik napas.
"Heenim-ah! Aku tidak akan pergi sebelum aku berbicara denganmu! Jebal..., turunlah!" teriak Hangeng. Dari jendela kamarnya, Heenim melihat Hangeng memandangnya dengan putus asa. Melihat Heenim di jendela kamarnya, Hangeng tersenyum.
"Heenim-ah!" teriaknya lagi. Heenim kesal dan menutup gorden jendelanya. Di bawah, Hangeng mendesah putus asa.
"Hhh..., Heenim-ah, jebal. Temui aku!"
Seseorang mengetuk pintu kamar Heenim. Heenim membuka pintu kamarnya dan melihat Eommanya berdiri di sana.
"Boleh Eomma masuk?" tanyanya. Heenim mempersilahkan Eommanya masuk, lalu menutup pintu kamarnya.
"Chagi-ah, kau tidak bisa membiarkannya di luar terus. Cepat atau lambat, kau harus menemuinya."
"Aku benci padanya, Eomma. Dia sudah berbohong padaku."
"Apa dia sudah menjelaskan mengapa dia berbuat demikian?"
"Aku tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan hal itu."
"Hhhm..., lebih baik kau temui dia dulu. Suruh dia menjelaskan. Kalau saat itu kau masih tidak bisa menerimanya, barulah kau putuskan untuk tidak menemuinya lagi. Namja itu sepertinya benar-benar mencintaimu. Setidaknya, berikan dia kesempatan. Eoddeokke?"
"Ne, Eomma benar. Aku akan menemuinya. Eomma selalu tau apa yang terbaik untukku."
"Ne. Selain itu, sebenarnya...., ehmm...., Eomma malu sama tetangga karena ada orang teriak-teriak di depan rumah kita pagi-pagi gini."
"Haaha..., Eomma bisa saja."
Akhirnya Heenim keluar dan menemui Hangeng.
"Ppali! Jelaskan!" kata Heenim tanpa basa-basi.
"Gomawo karena kau mau menemuiku," kata Hangeng sambil berseri-seri.
"Heenim-ah, nan jeongmal saranghaeyo, tidak pernah ada orang lain. Aku baru mengenal yeoja itu beberapa hari yang lalu. Dia selalu muncul di hadapanku tiba-tiba. Dia bilang, dia akan membantuku untuk mendapatkanmu. Entahlah..., aku sendiri pun bingung kenapa dia mau melakukan semua itu."
"Surat cinta itu...dia yang buat?"
"Ne. Mianhae."
"Tidakkah kau sadar kau telah membohongiku?" tanyanya Heenim kesal.
"Aku bukanlah orang yang pandai menyusun kata-kata indah. Terus terang, semua kata-kata itu tidaklah penting. Kaulah yang terpenting. Perasaanku kepadamu adalah nyata. Setiap hari kita bersama, aku senang sekali. Dalam mimpi pun, aku tidak percaya yeoja secantikmu mau pergi keluar bersamaku."
Heenim terdiam mendengar semua penjelasan itu. Melihat tidak ada jawaban dari Heenim, Hangeng tertunduk lemas.
"Sepertinya Heenim tidak mau memaafkanku," ucapnya dalam hati.
"Aku sudah menjelaskan sejujur-jujurnya. Semoga kau selalu bahagia, Heenim-ah."
Kakinya beranjak melangkah pergi.
"Tunggu dulu!!" teriak Heenim. Hangeng pun menoleh.
"Seenaknya saja kau pergi begitu saja! Apa kau tidak tau bahwa aku menderita semalaman! Pabo! Nado saranghaeyo. Itulah sebabnya aku merasa sakit hati," ungkap Heenim sambil menghampiri Hangeng. Hangeng pun memeluk Heenim.
"Gomawo..., jeongmal gomawo kau sudah menerimaku."
"Justru aku yang seharusnya mengatakannya. Kau satu-satunya namja yang bisa menerimaku apa adanya."
#Np : Neo gateun saram tto eopseo, juwireul dureobwado geujo geureohdongol..., eodiseo channi neo gatchi joheun saram..., neo gatchi joheun saram..., neo gatchi joheun maeum..., neo gatchi joheun seonmul...
****************************************************************
(Di rumah Yesung....)
Wookie membuka matanya perlahan. Rasanya ia telah tertidur sangat lama. Badannya lemas.
"Apa yang terjadi?" katanya sambil bangkit dari tidurnya. Sehelai kertas di meja sebelahnya menarik perhatian untuk dibaca. Ia pun membaca secarik kertas kecil itu.
Wookie Noona,
Aku pergi menemui Appa Noona.
Noona jangan khawatir, aku pasti akan membereskan semuanya.
Yesung
"Yesung!!"
Wookie langsung berlari keluar kamarnya. Sepeda yang biasanya terpakir di halaman ruamh sekarang tidak ada di tempat. Wookie tau Yesung pergi dengan sepeda itu. Ia keluar dari rumah dan berlari menuju rumahnya. Di tengah jalan, Wookie berhenti. Ia melihat Yesung sedang dikerumuni segerombolan anak 'BumBoom', tak jauh dari tempatnya berdiri. Wookie bergegas mendekati Yesung untuk menyelamatkannya. Sementara itu, Yesung sudah bersiap-siap menerima pukulan. Saat Zhoumi mendekatinya, Yesung menyadari bahwa Yesung ingin melawan.. Dia tidak mau diperlakukan seperti itu lagi. Yesung membuka kedua tangannya dan menatap Zhoumi.
"Ya! Berani kau memandanku seperti itu?"
"Kau hanya seorang pengecut yang bisanya main keroyokan. Kalau berani, ayo lawan aku, one by one," tegas Yesung.
"Hahahaha..., kau pikir aku takut? Lucu sekali. Kau ingin berkelahi denganku? Baiklah!" Zhoumi tertawa terbahak-bahak. Zhoumi segera mengambil ancang-ancang. Dia mengepalkan tangannnya dan mengayunkannya ke wajah Yesung. Yesung menunduk, menghindari pukulan Zhoumi, lalu Yesung menendang kaki Zhoumi keras-keras. Zhoumi langsung jatuh terduduk dan meringis kesakitan. Anak-anak yang lain hanya bisa diam melihat itu semua.
"Jangan ganggu aku lagi," kata Yesung memperingatkan. Ia menatap anak-anak yang lain.
"Kalau kalian tidak mau bernasib sama seperti Zhoumi, sebaiknya kalian menyingkir."
Di belakangnya, terlihat Wookie memperhatikan semua adegan itu dengan bangga. Yesung telah berhasil membela dirinya sendiri dengan jurus taekwondonya itu. Yesung meraih sepedanya dan berjalan melewati laean-lawannya. Matanya menatap Wookie yang berada di depannya dengan tersenyum lebar.
"Noona! Noona sudah sembuh?" teriak Yesung.
"Ne, aku sudah baikan sekarang. Aksi yang bagus sekali, Yesung-ah."
"Ne. Kali ini aku punya alasan untuk melawan mereka."
"Apakah kau menemui Appaku?"
"Mmm..., dia sudah pergi menemui Eommamu. Aku rasa dia berhasil."
"Ne, dia berhasil. Kajja! Kita ke pantai."
"Jinjjayo?" tanya Yesung mendongak.
"Geureom! Aku ingin menghabiskan hari ini denganmu di pantai, eoddeokke?"
"Bukankah Noona harus pulang hari ini? Gedung baru itu kan akan dibuka hari ini?"
"Ara..., lukisan itu tidak akan kemana-mana. Aku akan kesana setelah kita bermain di pantai."
"Baiklah. Geureom, kita pulang dulu..., mandi dan ganti baju."
"Ne..."
****************************************************************
(Setibanya di rumah Yesung....)
Wookie mengenakan gaun putih miliknya yang ia kenakan seminggu yang lalu. Hari ini ia akan kembali. Ada perasaan sedih menggelayuti hatinya. Wookie duduk di kursi kamarnya, mengambil selembar kertas, lalu menulis kertas.
Shindong Imo,
Saya akan pergi hari ini. Saya tidak akan tau kapan kita bisa bertemu lagi. Ada beberapa hal tentang Yesung yang ingin saya sampaikan pada Imo.
• Jangan pernah suruh Yesung ikut lomba menyanyi. Suaranya sangat payah. Apalagi kalau mendengar dan menyanyi malam-malam, bisa membuat kepala pening esok paginya.
• Bila Yesung sakit, temani dia. Dia masih merindukan kedua orang tuanya.
• Jika ingin memasak, masakan nasi goreng kimchi untuknya. Karena itu adalah masakan kesukaannya.
• Jangan pernah mengambil satu pun mainan yang ada di lemari Yesung. Entah bagaimana, Yesung bisa tau kalau mainannya diambil, padahal ada ratusan mainan di situ.
• Yang terakhir, Yesung tidak suka disentuh. Akan tetapi, sesekali dia sedang sedih, peluklah dia. Yesung tidak akan melepaskan pelukannya.
Tidak sulit untuk menyukai Yesung. Saya hanya membutuhkan tujuh hari untuk itu. Imo masih punya banyak waktu bersamanya. Habiskan waktu dengannya, dan kau akan menyadari bahwa Yesung adalah anak yang hebat. Bahkan lebih kebat dariku. Gamsahamnida karena telah mengizinkanku tinggal di sini.
Wookie
Kemudian Wookie melipat surat itu dan membawanya turun. Ia menemui Koki Kangin dan berpamitan kepadanya.
"Koki Kangin, saya pamit ya. Gomapsseumnida..., atas bantuannya selama ini."
"Ne. Jaga diri baik-baik, Wookie-ssi."
"Koki Kangin, tolong berikan surat ini untuk Shindong Imo. Sepertinya ia tidak ada di rumah lagi."
"Ne, nanti akan saya sampaikan."
"Wookie Noona!" panggil Yesung dari ruang tamu. "Kajja kita pergi!"
"Koki Kangin, saya pergi dulu ya."
"Ne, berhati-hatilah."
****************************************************************
Wookie mengajak Yesung ke rumah Eommanya terlebih dahulu sebelum mereka pergi ke pantai. Di sana, ia melihat Appa dan Eommanya sedang berpegangan tangan di depan perkarangan rumah.
"Aku akan menemui kalian lagi di masa depan," ucap Wookie perlahan. Setelah itu, Wookie pergi ke pantai bersama Yesung. Mereka berlarian di atas pasir. Wookie tidak peduli gaunnya kotor lagi. Mereka mendirikan istana pasir, dan merasa sedih ketika istana itu hanyut dibawa ombak.
"Benar kan kataku. Noona membuatnya terlalu dekat dengan laut."
"Yasudah. Kajja! Kita buat lagi. Tapi kali ini yang agak jauh dari laut."
Yesung tidak menjawab, hanya mengangguk. Sewaktu Wookie kelaparan, Yesung mengajaknya makan di tepi pantai. Yesung membeli ramen, sementara Wookie membeli ramen dan juga kimbap.
*rakus bener sih yeobo...ckckck*
"Jangan kebanyakan makan! Ingat terakhir kali Noona makan banyak sewaktu ke Korean Festival itu? Pulangnya Noona langsung sakit perut kan?"
"Hahaha," Wookie hanya tertawa tanpa mengindahkan perkataan Yesung. Wookie malah menulis serangkai kata bertuliskan SUPER JUNIOR di tangannya dengan spidol birunya itu.
"Yesung-ah, sini! Aku tulis di tanganmu juga," seru Wookie sambil menarik tangan Yesung.
"Shireo! Nanti tanganku kotor!" seru Yesung lalu berlari dari Wookie.
"Ya! Yesung-ah! Tunggu!" teriak Wookie yang juga berlari mengejar Yesung.
Di sore hari, keduanya duduk dan melihat matahari terbenam.
"Neomu joha!"
"Ne. Yesung-ah, gomawo, kau telah mengizinkanku untuk tinggal di rumahmu."
"Cheonmaneyo. Noona juga telah menyelamatkanku."
Kali ini tatapan Wookie berubah menjadi serius.
"Yesung-ah, berhentilah menjadi dewasa. Kau ini masih anak-anak. Seharusnya kau menikmati masa mudamu yang hanya datang satu kali. kau hidup di masa yang hebat. Nikmatilah hidupmu. Pilih satu kegiatan saja yang kau suka. Habiskan waktumu dengan bermain dan mencoba hal-hal baru. Cobalah berteman dengan anak seusiamu. Masih banyak hal lain yang lebih baik dilakukan bersama dibanding sendirian."
"Ara..., aku akan coba mengikuti perkataan Noona," ucap Yesung dengan lembut.
"Satu hal lagi," lanjut Wookie.
"Ne?"
"Berjanjilah padaku kau akan memberi Imomu kesempatan. Ia benar-benar menyayangimu."
"Bagaimana Noona bisa yakin hal itu?" sahut Yesung ketus.
"Hhh..., mungkin kau benar, aku tidak punya bakat apapun selain makan, namun kau tidak perlu punya bakat hebat untuk mengetahui apakah seseorang menyayangi keluarganya. Percayalah padaku, Shindong Imo amat sangat menyayangimu. Tolong beri ia kesempatan. Berjanjilah padaku!" jelas Wookie meyakinkan.
"Arraseo..., aku berjanji, Noona."
"Joha! Aku lega mendengarnya. Aku jadi tidak terlalu sedih meninggalkan masa ini," kata Wookie seraya berdiri.
"Bisakah Noona tidak pergi? Tinggalah di masa ini saja," ujar Yesung meraih tangan Wookie dan menggenggamnya.
"Yesung-ah...," seru Wookie perlahan.
"Aku akan memberikan mainanku untuk Noona. Tiap hari Noona boleh makan makanan apapun yang Noona suka. Gajima!"
Wookie berjongkok di sepan Yesung, "Yesung-ah, bukannya aku tidak ingin. Aku ingin sekali tinggal bersamamu, namun ini bukan masaku."
"Ara. Aku hanya berharap Noona tidak perlu pergi."
"Ne, kita akan bertemu lagi di masa depan...Yesung-ah, kajja! Kita pergi ke gedung SME sekarang!" seru Wookie dengan
"Ne, Noona."
Satu jam kemudian....
Wookie menatap gedung SME sambil menarik napas. Gedung itu sudah dipenuhi pengunjung.
"Aku akan masuk sekarang. Kau bisa pulang sendiri kan, Yesung-ah?"
"Ne, aku kan bisa menjaga diriku sendiri," ucap Yesung mendengus.
"Ara..., jaga dirimu baik-baik, Yesung-ah."
Wookie melangkah pergi.
"Orang itu tidak berhak mndapatkan Noona!" teriak Yesung di belakang.
Wookie pun menoleh, "Mwo? Apa maksudmu?"
"Namja yang memutuskan Noona di masa depan. Namjachingu Noona. Dia...dia tidak berhak mendapatkan Noona. Noona berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik darinya!" teriak Yesung terbata-bata.
"Gomawo," ucap Wookie sambil tersenyum perlahan. Ia baru sadar kalau selama satu minggu ini ia tidak memikirkan Kyuhyun dan Minnie sama sekali. Rasa sakit hatinya terhadap Kyu tidak dirasakannya lagi. Wookie berjalan kembali ke arah Yesung.
"Aku tahu kau tidak suka disentuh, tapi...," Tiba-tiba Wookie pun memeluk Yesung.
"Gomawo, yesung-ah," ucap Wookie lagi lalu melepaskan pelukannya. Kepalanya menepuk kepala Yesung perlahan.
"Annyeonghi kaseyo, Noona."
Wookie berjalan menuju lantai tiga. Sementara Yesung berjalan perlahan keluar gedung. Wookie bernapas lega ketika ia menemukan lukisan itu. Kemudian Wookie berjalan mendekatinya.
"Aku tau kau yang mengirimku ke masa ini. Kau ingin aku melihat orang tuaku di masa muda bukan? Sepertinya kau mengirimku ke masa ini juga untuk menyelamatkan Yesung. Jigeum, arraseo.
Wookie menarik napas perlahan, "Tolong kembalikan aku ke masaku! Jebal, kembalikan aku ke masaku yang semula!"
Tak berapa lama kemudian, ruangan gedung bergetar hebat. Wookie pun menutup matanya.
****************************************************************
Yesung memandang seberkas cahaya putih yang menyala dari lantai tiga, yang tak lama kemudian padam. Dia menunggu setengah jam berikutnya di depan gedung. Ketika sosok Wookie tidak muncul-muncul di pintu depan, Yesung yakin bahwa Wookie telah kembali ke masanya.
"Annyeonghi kaseyo, Noona," ucapnya perlahan. Yesung pun pulang ke rumah setelah itu. Setibanya di rumah, ternyata Shindong Imo sudah menunggunya dengan berderai air mata. Tangannya memegang sehelai surat.
"Yesung-ah, mianhae. Selama ini aku gagal merawatmu. Mulai sekarang, aku akan mencoba berubah dan merawatmu," kata Shindong Imo perlahan sambil memeluk Yesung.
"Geureom, Wookie sudah pergi?" tanya Shindong Imo lagi beberapa kemudian.
"Ne."
"Aku tahu kau senang bermain bersamanya. Bagaimana bila kau ajak lagi dia kemari kapan-kapan?"
"Ani..., dia tidak akan kembali lagi."
"Waeyo?" tanya Shindong Imo penasaran.
"Dia sudah kembali lagi ke masanya."
Pandangan Yesung menerawang jauh. Shindong Imo semakin bingung mendengar jawaban dari Yesung.
"Geureom, bagaiman kalau aku mulai menemui les besok?" tanya Shindong Imo sambil tersenyum.
"Jinjjayo?"
"Ne. Aku ingin mengenalmu dari awal lagi. Geureom..., hhm...," Shindong Imo berjongkok di hadapan Yesung.
"Annyeong. Jeoneun Shindong imnida. Aku adalah Imo yang payah. Selalu mabuk dan tidak pernah ada di rumah. Aku sudah menyia-nyiakan hidupku. Mulai saat ini, aku berjanji akan menjaga keponakanku!"
Yesung tersenyum lembut. Ia akan coba menepatkan janjinya kepada Wookie. Yesung pun menyambut uluran tangan Shindong Imo.
"Annyeong, Imo. Jeoneun Yesung imnida. Umurku delapan tahun. Idolaku adalah Kim Jong Woon hyung."
"Mulai hari ini, ayo kita membuat kenangan baru!"
Yesung mengangguk. Matanya menatap tangannya yang bertuliskan SUPER JUNIOR. Pikirannya beralih ke pantai sore tadi. Wookie berhasil membuat tulisan itu di tangan Yesung. Ia tahu, ia akan membuat kenangan baru bersama Imonya. Sementara itu, kenangannya bersama Wookie akan selalu disimpannya sampai kapanpun.
---tbc--
Nyampe sini dulu ya reader ceritanya. Mianhae, part masa depannya kayaknya di part. 10 aja yak...kekeke ^^
*ditendang readers ke pangkuan wookppa....hahaha
Yang udah baca ff ku ini, jeongmal gomawoyo...
Ditunggu ya RCLnya ^^ yang gak sengaja baca ataupun gak ke-tag tapi ngebaca nih ff, ikutan RCL juga yaak :D hehehenim
Yang gak suka sama ff ku, jeongmal mianhae :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar