Annyeong Annyeong :D *sambil lambai-lambai tangan*
Hayo!! Siapa yang lagi nunggu part 8 nya??
#Readers : Kagak ada tuh
kekekekeke
Kajja! Kita sambut part 8nya (?)
Ini dia...................
Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie)
-Shin Dong-hee as Shindong as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBoom')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi
Summary : Maksud hati, Wookie ingin bertemu Appanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Tetapi, siapa yang tahu bahwa ternyata Heenim salah paham di saat ia melihat Wookie berpelukan dengan Hangeng. Pada saat itulah akhirnya terjadi perang dunia ke-13 yang menyebabkan Hangeng berpisah dengan Heenim. Perpisahan itu ternyata menyebabkan dampak yang luar biasa terhadap Wookie.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ketujuh....
"Horee!! Besok aku pulang! Hari ini adalah hari terakhirku di masa lalu. Besok Gedung SME akan dibuka. Lukisan itu pasti akan ada di sana dan aku akan kembali ke masa depan," ucap Wookie perlahan pada dirinya sendiri. Walaupun senang bahwa ia akan pulang ke masanya, ia juga merasa sedih karena ia akan meninggalkan Yesung.
"Hari ini aku akan berpamitan dengan Appa, lalu mengajak Yesung jalan-jalan," ucapnya lagi sambil berjalan menuju ruang makan.
"Joheun achim, Yesung-ah," sapa Wookie saat akan sarapan.
"Ya! Kenapa tampangmu murung begitu? Cerialah. Ara, kau pasti sedih karena aku mau pergi kan?" ucap Wookie sambil menaik-turunkan alisnya. Tetapi Yesung tidak menjawab sepatah kata pun.
"Bagaimana kalau sore ini kita jalan-jalan?"
"Jalan-jalan?" sela Yesung.
"Ne, kau mau kemana?"
"Entahlah."
"Ya! Tidak usah sedih begitu."
"Kembalikan kelereng biruku."
*Nah loh, oppa....ketahuan (?)*
"Eh? Kelereng biru apa?" tanya Wookie pura-pura tidak tahu.
"Noona yang mengambilnya tadi malam," tuduh Yesung.
"Aku...., hem...., aku tidak mengambilnya."
"Sial! Kenapa anak ini bisa tahu? Kan ada ratusan kelereng yang ia punya," umpat Wookie dalam hati.
"Tadi pagi aku lihat sudah tidak ada. Pasti Noona yang mengambilnya kan?"
"Omo. Ini anak kayak dukhuntoria. Apa sih yang ia lakukan tiap pagi? Memeriksa seluruh mainannya?" batin Wookie.
"Ani, aku tidak mengambilnya," ucap Wookie sambil memasang tampang tidak bersalah.
"Noona itu bukanlah pembohong yang baik. A-yo kembalikan kelerengku!" terka Yesung (?) sambil menyorongkan telapak tangannya.
"Arasseo! Aku kembalikan," ucap Wookie meletakkan sendok dan garpunya, lalu berlari ke kamarnya untuk mengambil kelereng yang diambilnya.
"Nih!" katanya kemudian beberapa saat kemudian, sambil meletakkan kelereng tersebut di tangan Yesung. Yesung mengambil kelereng itu lalu meneruskan makannya.
"Yesung-ah, nanti siang aku akan menemui Appa di kampusnya. Tidak apa kan kalau aku tinggal sendirian? Nanti sore setelah aku menemui Appa, kita akan jalan-jalan. Eoddeokke?"
"Ne, terserah."
"Oke!"
***************************************************************
Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Wookie pergi menuju kampus orang tuanya dengan menggunakan sepeda. Sesampainya di kampus orang tuanya.....
"Hangeng!" seru Wookie di depan kelas Appanya. Hangeng pun menoleh. Wookie berjalan mendekati Hangeng.
"Bagaimana hubunganmu dengan Heenim? Baik-baik saja kan?"
"Ne, hari ini Heenim akan datang dan aku akan mengungkapkan perasaanku yang mendalam ini kepadanya."
"Oh, joha! Aku yakin kau bisa mengatakannya. Hhm...., sebenarnya aku kesini hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Besok aku akan pergi."
"Oh. Aku harap kita bisa bertemu lagi."
"Tentu saja Appa akan bertemu denganku lagi...di masa depan," ucap Wookie dalam hati.
"Ne, semoga hubunganmu dengan Heenim berhasil."
"Gomawo...atas semuanya."
"Ne, Cheonmaneyo."
Wookie tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia berjalan dan memeluk Hangeng, Appanya. Mulanya Hangeng sangat terkejut, lalu ia tersenyum.
"Surat cinta buatanmu itu....neomu neomu joha. Kalau tidak ada kau, aku tidak punya keberanian untuk mendekati Heenim. Omong-omong, selama ini aku belum tahu namamu."
"Jeoneun...."
Ucapan Wookie terputus di saat ia mendengar suara teriakan seorang yeoja dari belakang, kemudian melepaskan pelukannya.
"Teganya kau, Hangeng!! Aku kira kau berbeda. Ternyata kau sama saja seperti Donghae!" teriak Heenim. Wookie terkejut melihat Heenim menatapnya dengan pandangan menuduh sambil berteriak marah.
"Tunggu! Kau salah paham," kata Wookie.
"Diam! Aku tidak mau berbicara denganmu lagi."
"Heenim-ah! Kau benar-benar salah paham. Aku dan Wookie hanya berteman," seru Hangeng mencoba menjelaskan.
"Aniya. Aku melihatmu dengannya berpelukan. Lalu, kau mengatakan bahwa surat cinta itu bukan buatanmu! Kau sudah berbohong denganku, Hangeng. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" isak Heenim. Heenim melangkah pergi, namun Hangeng menghentikannya.
"Heenim-ah! Tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya."
"Ya! Lepaskan aku! Mulai sekarang jangna sentuh aku lagi! Dan jangan pernah menemui aku lagi. Arasseo!"
Heenim berlari ke luar kelas. Hangeng yang terlalu shock hanya terdiam. Melihat Appanya seperti itu, Wookie berlari menyusul Heenim.
"Heenim-ah, tunggu dulu! Dengarkan aku dulu!"
Heenim terus berlari. Wookie mengikutinya dari belakang.
"Berhenti mengikutiku!"
"Aku ingin menjelaskan semuanya. Apa yang kau lihat tadi itu adalah salah paham. Aku hanyalah chingu Hangeng."
"Jawab saja pertanyaanku. Apakah surat cinta yang Hangeng berikan padaku, adalah buatanmu?!"
Dengan berat hati Wookie mengangguk.
"Hhaa. Sudah jelas semuanya."
"Tunggu! Hangeng benar-benar mencintaimu. Aku sudah melihat kalian tertawa bersama dan menonton film di bioskop. Perasaan kalian tidak bisa dibohongi."
"Omo! Kau memata-mataiku?!' teriak Heenim kesal.
"Aigo! Babo! Kenapa aku keceplosan begini?" batin Wookie.
"Anio. Bukan seperti itu. Mungkin kalian belum tahu, suatu saat kalian berdua benar-benar akan menjadi orang yang sangat berarti bagiku. Jebal, berilah Hangeng kesempatan! Dia telah mencintaimu lebih dari sepuluh tahun."
"Kau itu bukan dia. Bagaimana kau bisa mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Sudahlah cukup semuanya. Hubungan aku dan Hangeng sudah berakhir hari ini."
"Aku tahu karena aku anak kalian. Aku sudah mellihat bukti cinta kalian selama delapan belas tahun. Hhh..., ingin rasanya aku berteriak seperti itu dihadapan Eomma," batin Wookie.
Melihat Wookie terpaku, Heenim berjalan menjauhinya. Wookie jatuh berlutut di jalan. Ia mengacaukan semuanya. Ia sedih sekali, sampai-sampai tak kuasa menahan tangisnya.
*********************************************************************************
Perjalanan pulang Wookie dilaluinya dengan langkah gontai. Bahkan sudah beberapa kali sepedanya oleng karena pikirannya yang lalu lantah (?). Pikirannya tidak pernah lepas dari perselisihan Appa dan Eomma. Setibanya ia di rumah Yesung, Wookie membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Yesung sudah standby menunggu Wookie di ruang depan.
"Noona sudah pulang? Kajja kita pergi jalan-jalan," sapa Yesung gembira. Tetapi tiba-tiba kegembiraannya berubah ketika melihat tampang Wookie yang pucat.
"Waeyo?" tanya Yesung bingung.
"Aku mengacaukan semuanya. Mereka tidak bisa bersatu lagi karena aku. Tadi aku sudah pergi menemui Appa. Aku tidak bisa menahan perasaanku dan memeluknya. Lalu Eomma ternyata melihatnya. Bagaimana bisa Eomma curiga padaku? Aku kan anaknya?" ucap Wookie yang menangis lagi.
"Eomma mu itu tidak tahu tentang hal itu."
"Aku gagal! Aku sudah berusaha menjelaskannya, tetapi Eomma sama sekali tidak mau mendengarkan dan percaya padaku. Eoddeokkajyo?"
"Noona, jangan bersedih. Kita coba menjelaskannya lagi. Kita pergi ke rumah Eommamu, lalu kau bisa menjelaskan semuanya."
"Ani. Eomma tidak mau bertemu dan berbicara lagi denganku. Aku benar-benar payah. Aku tidak bisa menyelamatkan hubungan orang tuaku sendiri. Ijen, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Menurutmu, kalau orang tuaku tidak bersatu, apakah aku akan menghilang."
"Molla," jawab Yesung jujur.
" Mengapa aku harus mengacaukan segalanya?!" teriak Wookie seperti orang frustasi. Yesung menggenggam tangan Wookie untuk yang pertama kalinya.
*Cie Yesung oppaaaaa! Prikitiew!! Hahahaha*
"Noona tidak mengacaukan semuanya. Noona menyelamtkanku, ingat? Malam itu Noona dengan berani menyelamatkanku dari mobil yang tak lama lagi akan menabrakku.
"Ara, orang lain pun juga akan melakukan hal yang sama."
"Anio..., Noona tidak mengerti. Malam itu aku tidak ingin diselamatkan. Aku sengaja berdiri di tengah jalan. Aku ingin mobil itu menabrakku."
"Mengapa kau ingin melakukan itu?"
"Noona pikir, hanya Noona yang hidupnya hancur? Aku juga telah menghancurkan hidup Eomma dan Appaku," jelas Yesung mulai menangis.
"Mwo? Maksudmu?"
"Kecelakaan mobil. Kau tahu? Mereka meninggal gara-gara aku. Aku meminta dibelikan robot Voltus yang ada di kamarku itu. Aku tahu mereka sudah lelah, namun aku merengek-rengek ingin robot itu. Semua chingu ku sudah memilikinya, aku menginginkan robot itu. Akhirnya, Eomma dan Appa pergi untuk membelikan robot itu untukku. Itu adalah terakhir kalinya aku melihat mereka. Aku membunuh mereka. Dan kau tahu apa yang lebih menyedihkannya? Mobil Appa benar-benar rusa parah, tapi robot itu tidak rusak sama sekali," jelas Yesung panjang lebar dengan air mata yang membanjiri pipinya. Wookie langsung memeluk Yesung erat-erar. Di elusnya rambut Yesung dengan lembut.
"Semuanya bukan karenamu, Yesung-ah. Kematian kedua orang tuamu itu adalah kecelakaa. Dan kecelakaan bisa terjadi kapan saja."
Wookie menyadari, rupanya selama ini Yesung telah memendam perasaan yang sangat menyakitkan. Itulah sebabnya Yesung terlihat lebih dewasa dari anak seumurannya. Dia telah berhenti menjadi anak kecil sejak orang tuanya meninggal.
"Mengapa aku tidak mati saja bersama mereka?" kata Yesung sambil menangis terisak-isak di pelukan Wookie.
"Ssst...., Yesung-ah, jangan berbicara seperti itu!"
Keduanya saling menangis dan berpelukan beberapa waktu. Tiba-tiba rasa dingin yang menjalar dari tubuh Wookie membuat ia melepaskan pelukannya.
"Yesung-ah, apakah kau merasa kedinginan?"
"Aniya. Waeyo?"
"Aneh. Aku merasa kedinginan."
"Kalau begitu, Noona istirahat saja di kamar," ucap Yesung khawatir. Yesung pun membantu Wookie berjalan ke kamarnya. Wookie pun berbaring di kamarnya dan Yesung berada di sampingnya sambil membantu menyelimuti Wookie.
"Apa Noona ingin minum air hangat?" tanya Yesung khawatir.
"Anio. Aku....lelah sekali....dingin sekali...," ucap Wookie gemetar.
"Noona!"
"Aku....kedinginan....dingin sekali."
"Noona, tunggu. Aku akan bawakan selimutku kemari untuk Noona."
Yesung berlari ke kamarnya dan membawa selimutnya, lalu menaruhnya di atas tubuh Wookie.
"Noona sudah merasa lebih hangat?"
"Dingin sekali...."
Yesung kebingungan setengan mati. Ruangan kamar sangatlah panas.
"Eomma...., Appa...., mianhae..."
"Orang tuanya. Kalau mereka tidak bersatu, Wookie Noona tidak akan dilahirkan. Ani! Ani! Ini tidak boleh terjadi. Wookie Noona tidak boleh mati!" ucap Yesung dalam hati.
"Noona, ireona! Noona harus bangun!" teriak Yesung sambil mengguncang-guncang tubuh Wookie. Teriakan Yesung tidak membuat Wookie terbangun. Wajah Wookie pucat pasi. Sekujur tubuhnya sedingin es. Napasnya terengah-engah .
"Noona tidak boleh pergi!!" teriak Yesung sambil menangis.
****************************************************************
(Sementara di rumah Heenim....)
Hangeng sudah menunggu seharian di depan rumah Heenim.
"Hhh..., aku harus menjelaskan semuanya!" tekad Hangeng.
"Heenim-ah! Bisakah kau menemuiku?"
Tetap saja tidak ada jawaban dari Heenim.
"Heenim-ah...., jebal. Temui aku sebentar saja. Aku....aku tidak mau kehilanganmu."
Hangeng terus saja berbicara sendiri. Berharap Heenim datang menemuinya, tetapi usahanya hari itu sepertinya sia-sia. Tidak ada tanggapan dari dalam rumah Heenim. Heenim hanya memandang Hangeng dari balik jendela kamarnya. Ia melihat Hangeng bergegas pergi meninggalkan rumah Heenim dan semakin menjauh. Heenim menangis sesudahnya.
****************************************************************
(Malam harinya.....)
Semalaman Yesung menjaga Wookie. Tubuh Wookie masih dingin seperti es padahal Yesung sudah mengompresnya dengan air hangat. Jam sudah menunjukkan tengah malam.
"Tidak akan ada dokter yang mau datang jam segini. Hhh..., Noona, bangunlah. Jebal."
Akhirnya Yesung memutuskan pergi ke kamar orang tuanya untuk mengambil selimut lagi. Sebelum pergi, ia memandang foto Eomma dan Appanya.
"Eomma..., Appa, aku sedih sekali. Wookie Noona sedang skarat seperti itu. Aku sangat khawatir. Aku tidak ingin kehilangan Wookie Noona. Aku tidak keberartan kalau nanti dia pergi meninggalkanku untuk kembali ke masanya. Aku ingin Wookie Noona sehat lagi. Kalau Wookie Noona sembuh, aku berjanji akan jadi anak yang baik."
Yesung menatap foto kedua orang tuanya dan menangis tersedu-sedu. Setelah tangisannya mereda, dia kembali ke kamar Wookie dan menemaninya.
****************************************************************
(Di tempat yang berbeda.....)
Shindong Imo mengemudikan mobilnya sambil mengantuk. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia mengemudi. Jam di mobil sudah menunjukkan pukul empat pagi. Efek alkohol dari minuman yang diteguknya mulai terasa. Kepalanya terasa melayang-layang. Sesaat ia bahkan sempat menutup matanya. Tiba-tiba sebuah cahaya lampu mobil yang menyilaukan diiringi suara klakson yang keras membangunkan Shindong Imo dari rasa kantuknya. Saat ia melihat ada mobil di depannya yang pasti akan menabraknya, tangannya langsung mencengkeram kemudi dan dengan refleks membelokkan mobilnya ke pinggir jalan. Kakinya menginjak rem kuat-kuat. Tak lama kemudian, mobilnya pun terhenti. Wajahnya terbenam pada kemudi mobil. Ia tidak bergerak selama beberapa waktu. Perlahan-lahan, Shindong Imo mulai membuka matanya. Tangannya meraba bekas benturan di keningnya.
"Aigoo! darah?"
Ia mengambil saputangan yang ada di tasnya yang berada di belakang. Saat hendak mengambil saputangan tersebut, sehelai foto terjatuh dari kursi belakang mobil. Shindong Imo mengambil foto itu, foto dirinya bersama dengan eonninya di masa kecil. Shindong Imo menangis keras-keras sesaat setelah melihat foto itu. Kini dirinya benar-benar sadar sepunuhnya. Nyawanya hampir saja melayang tadi.
"Eonni, kau datang untuk menyadarkanku ya?" katanya perlahan pada sehelai foto yang dipegangnya.
Senyum Eonninya di foto tersebut seakan-akan telah menjawab pertanyaan yang diajukan Shindong Imo.
"Mianhae....aku telah mengabaikan hidupku. Setelah kehilanganmu, aku jadi tidak punya tujuan hidup. Dulu kau yang selalu menjagaku. Aku baru sadar, Noona pasti tidak ingin aku menyia-nyiakan hidupku kan? Karena aku masih punya tanggung jawab untuk Yesung."
Jemarinya mengelus foto itu dengan penuh kelembutan.
"Mianhaeyo, Eonni. Dulu Noona yang selalu menjagaku, dan kini giliranku yang menjaga Yesung, anak Eonni. Bukankah itu yang kau inginkan? Aku sudah berusaha sekarang. Aku berjanji pada Eonni, apapun yang terjadi aku akan selalu menjaga Yesng. Shindong Imo menghapus air matanya dan tersenyum.Ia melihat keadaan di sekitarnya. Ia langsung menghidupkan mobilnya dan bergegas kembali pulang.
"Tunggu saja, Yesung-ah. Imo akan pulang dan menemuimu hari ini," tekadnya dengan semangat baru.
--tbc--
Akankah Wookie sembuh? Atau dia akan menghilang dari kehidupan selamanya?
Mungkinkah Heenim dan Hangeng bersatu kembali??
Ada yang bisa menebak??
Ditunggu ya komentarnya....yang koment bakal author nikahin sama siwon oppa. Hayooooo siapa yang mau??? kekekeke :D
#gakjelasangat