Kamis, 31 Maret 2011

FF YeWook // KyuMin :: Seven Days in The Past (Part. 8)

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Annyeong Annyeong :D *sambil lambai-lambai tangan*

Hayo!! Siapa yang lagi nunggu part 8 nya??

#Readers : Kagak ada tuh

kekekekeke

Kajja! Kita sambut part 8nya (?)

Ini dia...................

Genre : Family, Romance

Cast :

-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)

-Kim Jong Woon as Yesung (namja)

-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)

-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)

-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)

-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie)

-Shin Dong-hee as Shindong as Shindong (Imo from Yesung)

-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)

-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)

-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)

-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBoom')

-Lee Donghae as Donghae (namja)

-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi

Summary : Maksud hati, Wookie ingin bertemu Appanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Tetapi, siapa yang tahu bahwa ternyata Heenim salah paham di saat ia melihat Wookie berpelukan dengan Hangeng. Pada saat itulah akhirnya terjadi perang dunia ke-13 yang menyebabkan Hangeng berpisah dengan Heenim. Perpisahan itu ternyata menyebabkan dampak yang luar biasa terhadap Wookie.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari ketujuh....

"Horee!! Besok aku pulang! Hari ini adalah hari terakhirku di masa lalu. Besok Gedung SME akan dibuka. Lukisan itu pasti akan ada di sana dan aku akan kembali ke masa depan," ucap Wookie perlahan pada dirinya sendiri. Walaupun senang bahwa ia akan pulang ke masanya, ia juga merasa sedih karena ia akan meninggalkan Yesung.

"Hari ini aku akan berpamitan dengan Appa, lalu mengajak Yesung jalan-jalan," ucapnya lagi sambil berjalan menuju ruang makan.

"Joheun achim, Yesung-ah," sapa Wookie saat akan sarapan.

"Ya! Kenapa tampangmu murung begitu? Cerialah. Ara, kau pasti sedih karena aku mau pergi kan?" ucap Wookie sambil menaik-turunkan alisnya. Tetapi Yesung tidak menjawab sepatah kata pun.

"Bagaimana kalau sore ini kita jalan-jalan?"

"Jalan-jalan?" sela Yesung.

"Ne, kau mau kemana?"

"Entahlah."

"Ya! Tidak usah sedih begitu."

"Kembalikan kelereng biruku."

*Nah loh, oppa....ketahuan (?)*

"Eh? Kelereng biru apa?" tanya Wookie pura-pura tidak tahu.

"Noona yang mengambilnya tadi malam," tuduh Yesung.

"Aku...., hem...., aku tidak mengambilnya."

"Sial! Kenapa anak ini bisa tahu? Kan ada ratusan kelereng yang ia punya," umpat Wookie dalam hati.

"Tadi pagi aku lihat sudah tidak ada. Pasti Noona yang mengambilnya kan?"

"Omo. Ini anak kayak dukhuntoria. Apa sih yang ia lakukan tiap pagi? Memeriksa seluruh mainannya?" batin Wookie.

"Ani, aku tidak mengambilnya," ucap Wookie sambil memasang tampang tidak bersalah.

"Noona itu bukanlah pembohong yang baik. A-yo kembalikan kelerengku!" terka Yesung (?) sambil menyorongkan telapak tangannya.

"Arasseo! Aku kembalikan," ucap Wookie meletakkan sendok dan garpunya, lalu berlari ke kamarnya untuk mengambil kelereng yang diambilnya.

"Nih!" katanya kemudian beberapa saat kemudian, sambil meletakkan kelereng tersebut di tangan Yesung. Yesung mengambil kelereng itu lalu meneruskan makannya.

"Yesung-ah, nanti siang aku akan menemui Appa di kampusnya. Tidak apa kan kalau aku tinggal sendirian? Nanti sore setelah aku menemui Appa, kita akan jalan-jalan. Eoddeokke?"

"Ne, terserah."

"Oke!"

***************************************************************

Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Wookie pergi menuju kampus orang tuanya dengan menggunakan sepeda. Sesampainya di kampus orang tuanya.....

"Hangeng!" seru Wookie di depan kelas Appanya. Hangeng pun menoleh. Wookie berjalan mendekati Hangeng.

"Bagaimana hubunganmu dengan Heenim? Baik-baik saja kan?"

"Ne, hari ini Heenim akan datang dan aku akan mengungkapkan perasaanku yang mendalam ini kepadanya."

"Oh, joha! Aku yakin kau bisa mengatakannya. Hhm...., sebenarnya aku kesini hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Besok aku akan pergi."

"Oh. Aku harap kita bisa bertemu lagi."

"Tentu saja Appa akan bertemu denganku lagi...di masa depan," ucap Wookie dalam hati.

"Ne, semoga hubunganmu dengan Heenim berhasil."

"Gomawo...atas semuanya."

"Ne, Cheonmaneyo."

Wookie tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia berjalan dan memeluk Hangeng, Appanya. Mulanya Hangeng sangat terkejut, lalu ia tersenyum.

"Surat cinta buatanmu itu....neomu neomu joha. Kalau tidak ada kau, aku tidak punya keberanian untuk mendekati Heenim. Omong-omong, selama ini aku belum tahu namamu."

"Jeoneun...."

Ucapan Wookie terputus di saat ia mendengar suara teriakan seorang yeoja dari belakang, kemudian melepaskan pelukannya.

"Teganya kau, Hangeng!! Aku kira kau berbeda. Ternyata kau sama saja seperti Donghae!" teriak Heenim. Wookie terkejut melihat Heenim menatapnya dengan pandangan menuduh sambil berteriak marah.

"Tunggu! Kau salah paham," kata Wookie.

"Diam! Aku tidak mau berbicara denganmu lagi."

"Heenim-ah! Kau benar-benar salah paham. Aku dan Wookie hanya berteman," seru Hangeng mencoba menjelaskan.

"Aniya. Aku melihatmu dengannya berpelukan. Lalu, kau mengatakan bahwa surat cinta itu bukan buatanmu! Kau sudah berbohong denganku, Hangeng. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" isak Heenim. Heenim melangkah pergi, namun Hangeng menghentikannya.

"Heenim-ah! Tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya."

"Ya! Lepaskan aku! Mulai sekarang jangna sentuh aku lagi! Dan jangan pernah menemui aku lagi. Arasseo!"

Heenim berlari ke luar kelas. Hangeng yang terlalu shock hanya terdiam. Melihat Appanya seperti itu, Wookie berlari menyusul Heenim.

"Heenim-ah, tunggu dulu! Dengarkan aku dulu!"

Heenim terus berlari. Wookie mengikutinya dari belakang.

"Berhenti mengikutiku!"

"Aku ingin menjelaskan semuanya. Apa yang kau lihat tadi itu adalah salah paham. Aku hanyalah chingu Hangeng."

"Jawab saja pertanyaanku. Apakah surat cinta yang Hangeng berikan padaku, adalah buatanmu?!"

Dengan berat hati Wookie mengangguk.

"Hhaa. Sudah jelas semuanya."

"Tunggu! Hangeng benar-benar mencintaimu. Aku sudah melihat kalian tertawa bersama dan menonton film di bioskop. Perasaan kalian tidak bisa dibohongi."

"Omo! Kau memata-mataiku?!' teriak Heenim kesal.

"Aigo! Babo! Kenapa aku keceplosan begini?" batin Wookie.

"Anio. Bukan seperti itu. Mungkin kalian belum tahu, suatu saat kalian berdua benar-benar akan menjadi orang yang sangat berarti bagiku. Jebal, berilah Hangeng kesempatan! Dia telah mencintaimu lebih dari sepuluh tahun."

"Kau itu bukan dia. Bagaimana kau bisa mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Sudahlah cukup semuanya. Hubungan aku dan Hangeng sudah berakhir hari ini."

"Aku tahu karena aku anak kalian. Aku sudah mellihat bukti cinta kalian selama delapan belas tahun. Hhh..., ingin rasanya aku berteriak seperti itu dihadapan Eomma," batin Wookie.

Melihat Wookie terpaku, Heenim berjalan menjauhinya. Wookie jatuh berlutut di jalan. Ia mengacaukan semuanya. Ia sedih sekali, sampai-sampai tak kuasa menahan tangisnya.

*********************************************************************************

Perjalanan pulang Wookie dilaluinya dengan langkah gontai. Bahkan sudah beberapa kali sepedanya oleng karena pikirannya yang lalu lantah (?). Pikirannya tidak pernah lepas dari perselisihan Appa dan Eomma. Setibanya ia di rumah Yesung, Wookie membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Yesung sudah standby menunggu Wookie di ruang depan.

"Noona sudah pulang? Kajja kita pergi jalan-jalan," sapa Yesung gembira. Tetapi tiba-tiba kegembiraannya berubah ketika melihat tampang Wookie yang pucat.

"Waeyo?" tanya Yesung bingung.

"Aku mengacaukan semuanya. Mereka tidak bisa bersatu lagi karena aku. Tadi aku sudah pergi menemui Appa. Aku tidak bisa menahan perasaanku dan memeluknya. Lalu Eomma ternyata melihatnya. Bagaimana bisa Eomma curiga padaku? Aku kan anaknya?" ucap Wookie yang menangis lagi.

"Eomma mu itu tidak tahu tentang hal itu."

"Aku gagal! Aku sudah berusaha menjelaskannya, tetapi Eomma sama sekali tidak mau mendengarkan dan percaya padaku. Eoddeokkajyo?"

"Noona, jangan bersedih. Kita coba menjelaskannya lagi. Kita pergi ke rumah Eommamu, lalu kau bisa menjelaskan semuanya."

"Ani. Eomma tidak mau bertemu dan berbicara lagi denganku. Aku benar-benar payah. Aku tidak bisa menyelamatkan hubungan orang tuaku sendiri. Ijen, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Menurutmu, kalau orang tuaku tidak bersatu, apakah aku akan menghilang."

"Molla," jawab Yesung jujur.

" Mengapa aku harus mengacaukan segalanya?!" teriak Wookie seperti orang frustasi. Yesung menggenggam tangan Wookie untuk yang pertama kalinya.

*Cie Yesung oppaaaaa! Prikitiew!! Hahahaha*

"Noona tidak mengacaukan semuanya. Noona menyelamtkanku, ingat? Malam itu Noona dengan berani menyelamatkanku dari mobil yang tak lama lagi akan menabrakku.

"Ara, orang lain pun juga akan melakukan hal yang sama."

"Anio..., Noona tidak mengerti. Malam itu aku tidak ingin diselamatkan. Aku sengaja berdiri di tengah jalan. Aku ingin mobil itu menabrakku."

"Mengapa kau ingin melakukan itu?"

"Noona pikir, hanya Noona yang hidupnya hancur? Aku juga telah menghancurkan hidup Eomma dan Appaku," jelas Yesung mulai menangis.

"Mwo? Maksudmu?"

"Kecelakaan mobil. Kau tahu? Mereka meninggal gara-gara aku. Aku meminta dibelikan robot Voltus yang ada di kamarku itu. Aku tahu mereka sudah lelah, namun aku merengek-rengek ingin robot itu. Semua chingu ku sudah memilikinya, aku menginginkan robot itu. Akhirnya, Eomma dan Appa pergi untuk membelikan robot itu untukku. Itu adalah terakhir kalinya aku melihat mereka. Aku membunuh mereka. Dan kau tahu apa yang lebih menyedihkannya? Mobil Appa benar-benar rusa parah, tapi robot itu tidak rusak sama sekali," jelas Yesung panjang lebar dengan air mata yang membanjiri pipinya. Wookie langsung memeluk Yesung erat-erar. Di elusnya rambut Yesung dengan lembut.

"Semuanya bukan karenamu, Yesung-ah. Kematian kedua orang tuamu itu adalah kecelakaa. Dan kecelakaan bisa terjadi kapan saja."

Wookie menyadari, rupanya selama ini Yesung telah memendam perasaan yang sangat menyakitkan. Itulah sebabnya Yesung terlihat lebih dewasa dari anak seumurannya. Dia telah berhenti menjadi anak kecil sejak orang tuanya meninggal.

"Mengapa aku tidak mati saja bersama mereka?" kata Yesung sambil menangis terisak-isak di pelukan Wookie.

"Ssst...., Yesung-ah, jangan berbicara seperti itu!"

Keduanya saling menangis dan berpelukan beberapa waktu. Tiba-tiba rasa dingin yang menjalar dari tubuh Wookie membuat ia melepaskan pelukannya.

"Yesung-ah, apakah kau merasa kedinginan?"

"Aniya. Waeyo?"

"Aneh. Aku merasa kedinginan."

"Kalau begitu, Noona istirahat saja di kamar," ucap Yesung khawatir. Yesung pun membantu Wookie berjalan ke kamarnya. Wookie pun berbaring di kamarnya dan Yesung berada di sampingnya sambil membantu menyelimuti Wookie.

"Apa Noona ingin minum air hangat?" tanya Yesung khawatir.

"Anio. Aku....lelah sekali....dingin sekali...," ucap Wookie gemetar.

"Noona!"

"Aku....kedinginan....dingin sekali."

"Noona, tunggu. Aku akan bawakan selimutku kemari untuk Noona."

Yesung berlari ke kamarnya dan membawa selimutnya, lalu menaruhnya di atas tubuh Wookie.

"Noona sudah merasa lebih hangat?"

"Dingin sekali...."

Yesung kebingungan setengan mati. Ruangan kamar sangatlah panas.

"Eomma...., Appa...., mianhae..."

"Orang tuanya. Kalau mereka tidak bersatu, Wookie Noona tidak akan dilahirkan. Ani! Ani! Ini tidak boleh terjadi. Wookie Noona tidak boleh mati!" ucap Yesung dalam hati.

"Noona, ireona! Noona harus bangun!" teriak Yesung sambil mengguncang-guncang tubuh Wookie. Teriakan Yesung tidak membuat Wookie terbangun. Wajah Wookie pucat pasi. Sekujur tubuhnya sedingin es. Napasnya terengah-engah .

"Noona tidak boleh pergi!!" teriak Yesung sambil menangis.

****************************************************************

(Sementara di rumah Heenim....)

Hangeng sudah menunggu seharian di depan rumah Heenim.

"Hhh..., aku harus menjelaskan semuanya!" tekad Hangeng.

"Heenim-ah! Bisakah kau menemuiku?"

Tetap saja tidak ada jawaban dari Heenim.

"Heenim-ah...., jebal. Temui aku sebentar saja. Aku....aku tidak mau kehilanganmu."

Hangeng terus saja berbicara sendiri. Berharap Heenim datang menemuinya, tetapi usahanya hari itu sepertinya sia-sia. Tidak ada tanggapan dari dalam rumah Heenim. Heenim hanya memandang Hangeng dari balik jendela kamarnya. Ia melihat Hangeng bergegas pergi meninggalkan rumah Heenim dan semakin menjauh. Heenim menangis sesudahnya.

****************************************************************

(Malam harinya.....)

Semalaman Yesung menjaga Wookie. Tubuh Wookie masih dingin seperti es padahal Yesung sudah mengompresnya dengan air hangat. Jam sudah menunjukkan tengah malam.

"Tidak akan ada dokter yang mau datang jam segini. Hhh..., Noona, bangunlah. Jebal."

Akhirnya Yesung memutuskan pergi ke kamar orang tuanya untuk mengambil selimut lagi. Sebelum pergi, ia memandang foto Eomma dan Appanya.

"Eomma..., Appa, aku sedih sekali. Wookie Noona sedang skarat seperti itu. Aku sangat khawatir. Aku tidak ingin kehilangan Wookie Noona. Aku tidak keberartan kalau nanti dia pergi meninggalkanku untuk kembali ke masanya. Aku ingin Wookie Noona sehat lagi. Kalau Wookie Noona sembuh, aku berjanji akan jadi anak yang baik."

Yesung menatap foto kedua orang tuanya dan menangis tersedu-sedu. Setelah tangisannya mereda, dia kembali ke kamar Wookie dan menemaninya.

****************************************************************

(Di tempat yang berbeda.....)

Shindong Imo mengemudikan mobilnya sambil mengantuk. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia mengemudi. Jam di mobil sudah menunjukkan pukul empat pagi. Efek alkohol dari minuman yang diteguknya mulai terasa. Kepalanya terasa melayang-layang. Sesaat ia bahkan sempat menutup matanya. Tiba-tiba sebuah cahaya lampu mobil yang menyilaukan diiringi suara klakson yang keras membangunkan Shindong Imo dari rasa kantuknya. Saat ia melihat ada mobil di depannya yang pasti akan menabraknya, tangannya langsung mencengkeram kemudi dan dengan refleks membelokkan mobilnya ke pinggir jalan. Kakinya menginjak rem kuat-kuat. Tak lama kemudian, mobilnya pun terhenti. Wajahnya terbenam pada kemudi mobil. Ia tidak bergerak selama beberapa waktu. Perlahan-lahan, Shindong Imo mulai membuka matanya. Tangannya meraba bekas benturan di keningnya.

"Aigoo! darah?"

Ia mengambil saputangan yang ada di tasnya yang berada di belakang. Saat hendak mengambil saputangan tersebut, sehelai foto terjatuh dari kursi belakang mobil. Shindong Imo mengambil foto itu, foto dirinya bersama dengan eonninya di masa kecil. Shindong Imo menangis keras-keras sesaat setelah melihat foto itu. Kini dirinya benar-benar sadar sepunuhnya. Nyawanya hampir saja melayang tadi.

"Eonni, kau datang untuk menyadarkanku ya?" katanya perlahan pada sehelai foto yang dipegangnya.

Senyum Eonninya di foto tersebut seakan-akan telah menjawab pertanyaan yang diajukan Shindong Imo.

"Mianhae....aku telah mengabaikan hidupku. Setelah kehilanganmu, aku jadi tidak punya tujuan hidup. Dulu kau yang selalu menjagaku. Aku baru sadar, Noona pasti tidak ingin aku menyia-nyiakan hidupku kan? Karena aku masih punya tanggung jawab untuk Yesung."

Jemarinya mengelus foto itu dengan penuh kelembutan.

"Mianhaeyo, Eonni. Dulu Noona yang selalu menjagaku, dan kini giliranku yang menjaga Yesung, anak Eonni. Bukankah itu yang kau inginkan? Aku sudah berusaha sekarang. Aku berjanji pada Eonni, apapun yang terjadi aku akan selalu menjaga Yesng. Shindong Imo menghapus air matanya dan tersenyum.Ia melihat keadaan di sekitarnya. Ia langsung menghidupkan mobilnya dan bergegas kembali pulang.

"Tunggu saja, Yesung-ah. Imo akan pulang dan menemuimu hari ini," tekadnya dengan semangat baru.

--tbc--

Akankah Wookie sembuh? Atau dia akan menghilang dari kehidupan selamanya?

Mungkinkah Heenim dan Hangeng bersatu kembali??

Ada yang bisa menebak??

Ditunggu ya komentarnya....yang koment bakal author nikahin sama siwon oppa. Hayooooo siapa yang mau??? kekekeke :D

#gakjelasangat

Senin, 28 Maret 2011

FF YeeWook // KyuMin :: Seven Days in The Past (Part. 7)

Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi

Summary : Akibat kesembuhannya dari demam, Yesung mengurungkan niatnya untuk pergi ke Korean Festival. Tetapi, karena sedikit bantuan Shindong Imo, Wookie dan Yesung pun jadi pergi ke Korean Festival. Saat tiba di tempat tersebut, mereka melihat penampilan dari Super Junior, bertemu dengan orang tua Wookie, dan Yesung memenangkan sebuah pertandingan game.

Hari keenam Wookie di masa lalu.....

'GROOK...GROOOK' Suara dengkuran Wookie membangunkan Yesung dari tidurnya.

"Jadi? Noona ini menjagaku semalaman?" ucap Yesung perlahan.

"Noona, ireona. Sudah jam sembilan pagi."

"Yesung~ ah? Kau sudah bangun?" ucap Wookie meraba kening Yesung.

"Ne. Noona...yang menjagaku semalaman?"

"Mmm. Syukurlah, demammu sudah turun."

"Noona, gamsahamnida."

"Mwo? Ini pertama kali ia berkata terima kasih padaku," batin Wookie. Saking gembiranya, Wookie tanpa sadar menyenggol baskom air kompresan yang tepat di sampingnya. Isinya tumpah ke selimut Yesung.

"Arggghh! Selimutku! Kenapa Noona selalu merusak barang kesayanganku?!" teriak Yesung spontan seperti orang kesetanan (?).

"Sorry Sorry, Yesung~ ah. Aku tidak sengaja. Nanti aku akan cuci selimutmu ini."

"Hhh~ sudahlah. Aku mau mandi. Nanti antarkan aku ke tempat les."

"Eh Eh Eh...Andwae. Berhubung kau baru sembuh, kau tidak usah les. Arasseo? Kau mau sarapan apa? Bubur ya?"

"Ne," jawab Yesung singkat. Wookie keluar kamar dan bergegas ke dapur.

"Wookie-ssi, apa anda ingin memasak lagi?"

"Ne, Koki Kangin. Saya mau membuatkan bubur untung Yesung. Semalam dia demam."

"Mwo? Yesung-ssi semalam demam?!"

"Ne, tapi sekarang sudah baikan."

"Syukurlah. Wookie-ssi, biar saya saja yang membuatkan bubur untuknya."

"Anio~ kalau buat bubur saja sih itu mudah."

"Hhm...baiklah."
Wookie pun memulai membuat bubur untuk Yesung. Seusainya ia membuat bubur di dapur, Wookie kembali lagi ke kamar Yesung dengan membawakan semangkuk bubur ayam buatannya. Wookie menghabiskan waktu pagi harinya di kamar Yesung untuk merawatnya.

"Yesung~ ah, kajja makan buburnya...Aaa," kata Wookie seraya menyuapinya.

"Shireo...aku ini bukan anak kecil yang harus disuapi. Aku bisa makan sendiri."

"Ne, baiklah."

**************************************************************************

"Mengapa buburnya tidak dihabiskan? Tidak enak ya?"

"Ne, nggak enak. Nggak ada rasanya," jawab Yesung pasti.

"Hhh~ ternyata aku memang tidak pandai memasak."

*aigo~ kasian suamiku Wookppa...mending tuh bubur buat aku dah*

"Mianhae, Noona, aku berbohong lagi. Sebenarnya bukan buburnya yang tidak ada rasanya, tetapi aku yang tidak punya selera makan pagi ini," umpat Yesung dalam hati.

"Noona, bisakah kau keluar dari kamarku? Aku mau tidur lagi."

"O~ ne. Selamat tidur Yesung~ ah."

(Satu jam kemudian....)

"Aku pulang," ujar Shindong Imo dengan nada datar.

"Shindong Imo, semalam Yesung demam."

"Mwo? Lalu, dimana dia sekarang?"

"Di kamar sedang tidur."

"Baguslah. Hhh~ aku capek sekali. Gomapta sudah menjaga Yesung. Aku juga mau tidur."

"Ne," jawab Wookie singkat. Ia pun berlalu menuju ruang tengah. Wookie duduk termenung sendirian sambil menatap sekelilingnya.

"Hhh~ sepi sekali. Aku bosan tingkat akut! Fu Fu Fu."

********************************************************************

Hari sudah menjelang sore, Wookie menghabiskan waktunya hanya dengan menonton TV.

"Sebaiknya aku mandi."
Wookie pun akhirnya pergi mandi. Selesai mandi dan berpakaian, ia melihat jam dinding menunjukkan pukul empat sore.

"Hmm...Korean Festival akan dimulai pukul 18.00. Pokoknya aku harus datang!" ucap Wookie dalam hati. Kemudian Wookie pun menghampiri Yesung yang sedang duduk menonton TV.

"Yesung~ ah, nanti kita ke Korean Festival ya."

"Shireo. Aku sedang malas kemana-mana."

"Yesung~ ah, kau kan sudah sembuh. Daripada bosan di rumah mending kita ke Korean Festival. Lagi pula kan ada Super Junior jadi bintang tamu."

"Hey...waeyo?" tanya Shindong Imo menyela percakapan mereka.

"Shindong Imo?"

"Ne. Kenapa kalian ribut?"

"Begini, Imo. Aku ingin mengajak Yesung ke Korean Festival nanti malam. Kan bosan kalau di rumah terus. Tapi Yesungnya malah enggan."

"Yasudah, kalian pergi saja. Aku akan pergi menemui chingu ku, nanti sekalian ku antar ke Korean Festival."

"Jeongmal? Gamsahamnida, Imo. Yesung~ ah, kajja kita siap-siap!" ucap Wookie sambil tersenyum lebar.

"Hhh~" gumam Yesung pasrah. Wookie pun bersiap-siap untuk pergi ke Korean Festival. Ia melihat-lihat lemari pakaian orang tua Yesung dan menemukan gaun kuning di atas lutut. Kemudian Wookie memakainya. Dua jam kemudian, Wookie, Yesung, dan Shindong Imo sudah berada dalam perjalanan menuju tempat Korean Festival. Suasana Korean Festival sudah ramai ketika Wookie dan Yesung turun dari mobil.

"Ini uang jajan kalian. Nanti kalian pulang sendiri, ya."

"Ne, Imo. Gomapsseumnida," ucap Wookie membungkukan badannya.

"Kajja Yesung! Kita masuk," timpal Wookie lagi. Yesung mengikuti Wookie dari belakang.

"Wah! Ramai sekali! Yesung~ ah, a-yo kita cari makan!"

"Mwo? Kenapa sih yang ada dipikiran Noona itu hanya makanan saja? ckckck," celetuk Yesung mengikuti Wookie ke stand makanan.

"Nyaam. Ahjussi, aku pesan ramen ya. Yesung~ ah, kau mau apa?"

"Anio~ aku belum lapar."

"Oh yasudah. Ahjussi, aku pesan 1 porsi ya."
Tak lama pesanan ramennya pun datang.

"Nyam Nyam Nyam. Yesung~ ah, kau yakin tidak mau makan?" tanya Wookie sambil menyuapkan ramen ke mulutnya.

"Anio~ melihat Noona makan seperti itu saja sudah membuatku kenyang."

"Oh. Yasudah, aku habiskan ya."
Wookie pun menghabiskan ramen itu tanpa sisa.

*weleh weleh...napa suamiku jadi rakus begitu yak? Jangan2 mangkoknya juga ikut kemakan lg (?)*

"Nyam Nyam...Yesung~ ah, kajja kita ke sana!"

"Kemana?"

"Ke panggung sana. Di jadwal, Super Junior akan perform sebentar."

"Ne, kajja!"
Wookie dan Yesung pun berjalan menuju depan panggung. Setiba mereka di depan panggung....

"Annyeong haseyo para pengunjung! Berhubung sudah pukul 18.30, langsung saja ya, kita sambut performance dari boyband kesayangan kita....SUPER JUNIOR!" seru pembawa acara yang tak lain adalah Leeteuk Ahjussi. Mendengar kata Super Junior, semua pengunjung yang ada di tempat itu berteriak histeris.

"Noona, ini...nanti tolong ambil foto mereka ya," ucap Yesung di tengah keramaian yang sambil menyodorkan sebuah kamera digital. Wookie pun dengan sigap mengambil kamera tersebut dan mengambil foto Super Junior.

Life couldn't get better
Life couldn't get better

Jigumkaji no obdon shiganun odumiojyo (without you baby)

Norul mannan hu naui senghwarun kumman gathayo (baby)

Norul chum bon sungan (choum bon sungan) a miracle (a miracle)
Nan nukkyojyo gijogun baro norangol

Life couldn't get better (hey~)
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~)
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn't get better (hey~)
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo
Life couldn't get better

Meil meil pyongbomhetton nal duri ijen dalla jyossoyo (a holiday)

Sesang modun saramduri hengboghe boyoyo (I wanna thank you baby)

Norul choum bon sungan (choum bon sungan) a miracle (a miracle)
Nan nukkyojyo gijogun baro norangol

Life couldn't get better (hey~)
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~)
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn't get better (hey~)
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo
Life couldn't get better
(life couldn't get better)

Nol choum bon sungan a miracle (a miracle)
I love you baby and I'm never gonna stop

Life couldn't get better (hey~)
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~)
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn't get better (hey~)
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo

Life couldn't get better (hey~)
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~)
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn't get better (hey~)
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo
Life couldn't get better

**************************************************************************

Selesai Wookie dan Yesung melihat performance Super Junior, mereka pun pergi duduk ke tempat yang tak jauh dari stand aksesoris. Tiba-tiba Wookie melihat Appa dan Eommanya yang berada di stand aksesoris.
"Yesung~ ah, lihat! Itu kan Eomma dan Appaku. Kajja kita kesana!"

"Mwo? Kita ingin memata-matai mereka lagi?"

"Ani~ aku hanya ingin melihatnya saja. Kajja!"
Mereka berdua pun berjalan ke stand aksesoris. Terlihat Hangeng sedang memakaikan sebuah kalung bergandul hati di lehernya Heenim.

"Kalung itu? Ne, aku pernah melihat kalung itu di masa depan yang di pakai oleh Eomma. Ternyata kalung itu masih ada. Mereka memang pasangan sejati."
Wookie memandang langit di atasnya dan mendesah.

"Hhh~ kapan ya aku bisa mendapatkan cinta sejati seperti itu?"

"Noona pasth akan mendapatkannya suatu saat nanti."

"Mwo? Perkataan anak ini....menenangkan hatiku," batin Wookie.

"Yesung~ ah, apa menurutmu benar bisa?"

"Ne, tentu saja bisa, kalau Noona tidak rakus makan."

"Ya! Kau menyindirku?"

"Ani~ itu memang kenyataan."
Tawa kedua orang tuanya mengalihkan perhatian Wookie. Ia melihat Appa dan Eomma sedang makan berdua sambil suap-suapan. Wookie tersenyum lega.

"Jeongmal...merindukan mereka. Rasanya aku ingin lari kesana dan memeluk mereka, namun aku tidak mungkin melakukannya."

"Noona akan bertemu mereka sebentar lagi, saat gedung itu dibuka," ucap Yesung perlahan.

"Jigeum, kau percaya bahwa aku berasal dari masa depan?"

"Ne. Noona, aku ingin ke toilet."

"Ne, jeo jjok. Aku tunggu di luar ya."
Yesung berlari masuk ke toilet. Sambil menunggu, Wookie melihat-lihat stand di sekitar situ. Pandangannya tertuju pada robot yang mirip dengan milik Yesung.

"Ahjusshi, aku ingin beli robot ini," kata Wookie sambil tersenyum.

"Aku bisa memberikan robot ini sebagai pengganti robot Yesung yang ku rusak waktu itu," ucapnya dalam hati. Sesudah membelinya, Wookie menyembunyikannya di tas miliknya. Ia ingin memberi kejutan kepada Yesung. Setelah Yesung keluar dari toiled, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Dari kejauhan, mereka melihat sebuah arena game komputer. Arena tersebut mengadakan lomba game Space Invaders. Wookie langsung meminta Yesung mengikuti perlombaan itu.

"Kajja, Yesung! Tembak terus!!" teriak Wookie memberi semangat.

"Noona! Jangan teriak-teriak di telingaku. Aku jadi tidak bisa fokus," ucap Yesung ketus.

"A~mianhae."

(10 menit kemudian....)

Perlombaan telah selesai, salah seorang petugas arena memeriksa angka di masing-masing komputer. Kemudian, ia mengumumkan bahwa pemenangnya adalah Yesung.

"Yeah! Yesung~ ah, kau daebak!" teriak Wookie meloncat-loncat gembira. Hadiah yang di dapatkan Yesung adalah sebuah jam tangan berwarna merah dan dua lusin cokelat berukuran kecil.

"Yesung~ chukaehaeyo. Kau memang daebak!" seru Wookie ketika mereka keluar dari arena itu.

"Noona, sudah malam. Aku ngantuk. Kita pulang, ya."

"Ne, kajja!" jawab Wookie. Keduanya pun berjalan untuk pulang ke rumah.

******************************************************************

(Setibanya mereka di rumah...)
Wookie memasuki kamar Yesung tak lama setelah mereka tiba di rumah.

"Yesung~ ah, aku punya hadiah untukmu," ucap Wookie yang mengeluarkan sebuah robot baru dan memberikannya kepada Yesung.

"Untuk apa beli robot yang sama?"

"Ini untuk pengganti robotmu yang rusak."

"Gomawo." Wiliam mengambil robot yang ada di tangan Wookie dan menaruhnya di samping robot yang rusak.

"Yesung~ ah, apa aku boleh minta sesuatu."

"Ne?"

"Aku minta cokelatmu itu ya?"

"Andwae~ ini punya ku."

"Ara. Tapi aku ingin mencoba cokelat itu. Di masa depan cokelat seperti itu sudah tidak ada."

"Anio~"

"Hhh~ dasar pelit."
Tiba-tiba pandangan Wookie tertuju pada kelereng biru yang diincarnya. Melihat Yesung sedang fokus dengan jam tangan barunya, Wookie mengambil kelereng itu dan berjalan keluar kamar.

"Akhirnya kelereng ini menjadi milikku. Yesung tidak akan tahu kalau kelereng ini ku ambil. Dia kan memiliki ratusan kelereng," ucap Wookie dalam hati. Wookie meletakkan kelereng itu di laci meja kamarnya.

"Aku akan membawa kelereng ini pulang bersamaku," ucap Wookie perlahan. Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit. Ia membuka pintu kamar dan berlari ke arah kamar mandi. Mendengar suara langkah Wookie, Yesung menengok keluar kamar.

"Makanya, jangan jadi orang rakus!" teriak Yesung meledek.

"Diam kau Yesung!!" geram Wookie.

"Noona tidak mau cokelat ini?" goda Yesung.

"Yesung! Pergilah ke kamarmu dan jangan ganggu aku lagi. Aigoo~ sakit sekali."

"Kekekeke."
Yesung pun masuk kembali ke kamarnya sambil ketawa cekikikan.

(Dua jam kemudian...)

"Hhh~ rasanya lega sekali."

'CIIIIT....' Tiba-tiba suara pintu depan yang terbuka mengejutkan Wookie. Ia pun langsung menuju depan rumah. Dilihatnya Shindong Imo masuk ke dalam rumah dengan langkah sempoyongan. Sesampainya di tangga atas, kakinya sudah goyah. Untung saja Wookie ada di situ dan memapah Shindong Imo ke kamarnya.

"Nuguseyo, hah?" gumam Shindong Imo setengah sadar.

"Naneun Wookie imnida, Shindong Imo. Imo yang mengizinkanku menginap disini beberapa hari yang lalu."

"Oh~ ne...ne...ne."
Wookie merebahkan Shindong Imo di atas tempat tidurnya dan menyelimutinya. Di saat Wookie akan berlalu, ia mendengar suara tangisan yang tak lain ada suara tangisan Shindong Imo.

"Shindong Imo, gwaenchanayo?" tanya Wookie khawatir.

"Kau tahu...bagaimana rasanya kehilangan seorang Eonni? Kau tahu...rasanya kehilangan...orang tuamu? Sekarang aku hidup sendiri," isak Shindong Imo.

"Arasseo. Namun kau tidak sendirian, Shindong Imo. Kau masih mempunyai Yesung."

"Hhaa..anak itu...anak itu sangat membenciku!"

"Ani~ Yesung tidak pernah membenci Imo. Aku yakin kau juga tidak membencinya."

"Kau tidak tau apa-apa. Kau...kau tidak mau bagaimana rasanya kehilangan semuanya."

"Ara...tapi, Yesung sudah kehilangan kedua orang tuanya. Apakah kau pernah memikirkan itu? Yesung juga pasti merasa kehilangan. Jigeum, secara perlahan apakah Yesung juga harus kehilanganmu?"

"Pergilah!!" kata Shindong Imo ketus.

"Ne, arasseo. Annyeonghi jumuseyo."

--tbc--

Sabtu, 19 Maret 2011

FF YeWook // KyuMin :: Seven Days in The Past (Part. 6)

Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi

Summary : Demi mendapatkan permohonan maaf dari Yesung, Wookie rela memasak masakan untuknya dan pergi ke pasar ikan untuk membeli udang. Alhasil, usahanya Wookie tidak sia-sia. Yesung menyukai masakan Wookie yang katanya mirip masakan Eommanya, tapi Yesung gengsi mengakui hal itu. Di tempat yang berbeda, terjadilah pertengkaran Hangeng dan Donghae karena berebutan Heenim.


Hari ini Wookie bangun pagi-pagi sekali. Hari ini ia berniat memasak untuk Yesung, dengan harapan Yesung bisa memaafkannya akibat ulahnya kemarin. Terlihat Koki Kangin yang sudah ada di dapur semenjak tadi. Wookie langsung menuju kesana.

"Joheun achim, Koki Kangin," sapa Wookie sambil membungkukan badannya.

"Joheun achim Wookie-ssi."

"Koki Kangin?"

"Ne, waeyo, Wookie-ssi?"

"Apa kau tau apa makanan kesukaan Yesung?"

"Dia hampir suka semua makanan. Tetapi dia paling suka nasi goreng kimchi."

"Jinjja?" tanya Wookie.

"Itu sih juga makanan kesukaanku. Dulu Eomma pernah mengajariku buat masakan itu," ucap Wookie lagi pelan.

"Memangnya ada apa, Wookie-ssi?"

"Anio~ hari ini saya akan masak untuk Yesung. Gomapsseumnida, Koki Kangin."

"Ne. Tapi, udangnya sudah habis. Nanti siang baru mau saya beli."
"Hhm...begini saja, biar saya saja yang beli udangnya. Koki Kangin tinggal menunjukan dimana super marketnya."
"Biar saya saja. Soalnya belinya di pasar ikan."
"Mwo? Pasar ikan? Pasar ikan kan becek, bau, dan......kalau kulitku rusak gimana? Ah tapi, ini demi Yesung agar dia mau memaafkanku." umpat Wookie.
"Gwaenchana, Koki Kangin. Biar saya saja, lagi pula saya sekalian olahraga naik sepeda," tegas Wookie. Koki Kangin akhirnya memberitahu letak pasar ikan tersebut dan Wookie akhirnya pergi menggunakan sepeda. Kaki Wookie mulai mengayuh sepeda keluar rumah, bibirnya bersiul-siul gembira.
"Pasti Yesung akan tersentuh begitu tahu kalau aku bersusah payah memasak unttknya. Lalu dia akan memaafkanku. Omo! Wookie, kau memang cerdas...hahaha," ucapnya dalam hati.

(Setibanya di pasar ikan....)

"Ternyata pasarnya sudah penuh! Aigoo~"
Wookie sampai berdesak-desakan dengam para ibu rumah tangga. Setelah berkutat selama dua jam lamanya dengan keringat yang mengalir deras di keningnya (?), Wookie berhasil mendapatkan udang yang ia butuhkan untuk nasi goreng kimchi. Ia pun segera pulang ke rumah Yesung. Dalam perjalanan pulang, Wookie mampir dulu di rumah Hangeng. Ia menghentikan sepedanya dan melihat rumahnya.

"Sebentar lagi aku akan pulang!" batin Wookie.

'CIIIIITT!' Tiba-tiba suara gerbang dibuka mengalihkan pikiran Wookie. Sebuah motor keluar dari sana. Wookie lalu mengayuh sepedanya mendekati Hangeng.

"Ya! Hangeng!" teriaknya dari kejauhan. Appanya itu celingak-celinguk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Sepeda Wookie sampai di dekat sepeda motor Appanya.

"Annyeong. Mau kemana kau pagi-pagi begini?"

"Annyeong, Wookie~ah. Aku ingin bertemu Heenim."

"Jinjja? Joha! Jadi, kencan kalian kemarin berhasil kan?"

"Ne. Kenapa kau bisa ada disini."

"Eh? Mmm...rumahku dekat sini. Aku baru pulang dari pasar ikan. Jadi, hari ini kau dan Heenim akan kemana?"

"Oh. Aku akan mengajaknya ke pantai. Dan besok kami akan ke Korean Festival."

"Joha!"

"Aku harus pergi sekarang."

"Arraseo. Semoga kencannya berhasil, ya. Hwaiting!"

"Gomapta," Hangeng berlalu dengan motornya.

"Mwo? Bukankah itu Hyuk Halmeoni dan Siwon Harabeoji? Aku sangat merindukan mereka. Aku harus menemui mereka," ungkap Wookie antusias. Ia menyenderkan sepedanya di dinding pagar lalu masuk ke dalam rumah itu.

'TOK! TOK!'

"Nuguseyo? Mau cari siapa?" tanya Siwon yang membukakan pintu. Tanpa ada jawaban, Wookie langsung memeluk harabeojinya itu.

"Bogoshipeo!" ucap Wookie dalam pelukan.

"Hey! Nak! Apa maksudmu?" seru Siwon berusaha melepaskan pelukan Wookie.

"Papi! Ada tamu ya? Siapa tamunya? Apa teman arisan Mami?" teriak Hyuk dari kejauhan. Lalu Hyuk menghampiri Siwon.

"Papi, siapa dia?"

"Molla, Mam."

"Mollayo? Lalu kenapa dia memeluk Papi? Apa ini yeoja selingkuhan Papi?" tanya Hyuk sambil memukul-mukul Siwon. Mendengar suara Hyuk, Halmeoninya, Wookie langsung berpindah memeluk Hyuk.

"Bogoshipeo, Hyuk Halmeoni," ucap Wookie seraya memeluk Wookie. Setelah lima menit Wookie melepas rindu dengan Halmeoni dan Harabeojinya, ia pun pamit pulang.

"Mianhaeyo. Harabeoji...Halmeoni. Sebentar lagi aku akan pulang," kata Wookie kepada Halmeoni dan Harabeojinya. Ia pun bergegas pergi meninggalkan rumah itu.

"Papi," ucap Hyuk.

"Ne, Mami."

"Papi dengar tadi? Halmeoni? Harabeoji?"

"Ne, Papi juga bingung. Kita kan hanya punya seorang anak yaitu Hangeng. Dan dia belum menikah."

"Ne. Hhh~ dunia memang sudah aneh."

"Mungkin ini faktor umur kita juga kali ya, Mam, yang semakin tua?"

"Iya kali ya, Pap."

"Yasudahlah. Kita masuk saja ke dalam."
Siwon dan Hyuk masuk ke dalam rumah dengan penuh pertanyaan besar.

(Di rumah Yesung...)

"Aku pulang!" seru Wookie seraya menuju ke dapur."

"Kau sudah pulang Wookie-ssi?"

"Ne, Koki Kangin. Ini! Aku sudah dapat udangnya. Hhh~ baru pertama kalinya aku ke pasar ikan," Wookie sedikit mengeluh. Mendengar ucapan Wookie, Koki Kangin langsung tertawa kecil.

"Yasudah. Aku mau masak sekarang, ya, Koki Kangin."

"Ne, apa perlu saya bantu?"

"Anio~"

"Mmm. Kalau kau butuh bantuanku, panggil saya saja."

"Ne. Gomapsseumnida."

(Setengah jam kemudian....)

"Yeah! Nasi gorengnya sudah selesai. Koki Kangin, tolong letakan ini di meja makan ya."

"Ne," jawab Koki Kangin singkat. Ia pun langsung menuju ke meja makan untuk menyajikan nasi goreng kimchi ala Wookie.

"Wah! Nasi goreng kimchi!" tanpa bicara panjang lebar, Yesung langsung menyerbu nasi goreng kimchi yang diletakkan di meja makan itu. Ia menyendokannya ke piringnya lalu suap demi suapan masakan itu dilahapnya.

"A~ masitta!" seru Yesung.

"Jinjja? Masakanku enak?" tiba-tiba suara Wookie dari arah dapur menghilangkan selera makan Yesung.

"Ini....masakan Noona?"

"Ne."

"Hhm...terlalu asin, tidak ada rasa khasnya."

"Eh? Bukankah tadi katamu itu enak?"

"A~ anio. Kau salah dengar."

"Hhh~ yasudahlah. Kalau kau tak suka, buang saja. Niatku hanya ingin menebus kesalahanku karena telah membuat robotmu rusak."

"Sudahlah Noona. Tidak usah membahas masalah robot lagi. Aku sudah memaafkanmu. Yasudah, aku ingin sarapan dulu."

"Ne, gomapta, Yesung. Tadi katamu masakanku tidak enak?"

"Daripada dibuang, mending aku makan saja."

"Sebenarnya masakan Noona sangat pas sekali. Mirip dengan buatan Eomma," umpat Yesung dalam hati.

Setelah sarapan, Wookie menemani Yesung menonton TV. Di tengah-tengah keasikan mereka menonton TV, tiba-tiba Wookie membuka pembicaraan.
"Yesung~ah, apa kau mau ke pantai saat ini?"

"Mwo? Ke pantai siang bolong begini? Tidak mau! Untuk apa kesana?"

"Untuk melihat orang tuaku," umpat Wookie dalam hati.

"Hhm...aku bosan di rumah terus," ucap Wookie berbohong. Yesung menatap Wookie curiga.

"Jangan-jangan...Noona mau mengikuti mereka itu lagi, ya?"

"Sial! Ketauan. Ini anak kayak dukun juga lama-lama," gerutu Wookie dalam hati.

"Tapi, Yesung~ah. Aku hanya ingin tahu saja."

"Andwae~ aku mau mengerjakan tugas PR ku," jawab Yesung tegas sambil berlalu ke kamarnya dan menutup pintu.

"Hhh~ yasudah, aku pergi sendiri saja," keluh Wookie pada dirinya sendiri. Ia pun berjalan menuju pintu keluar. Tetapi langkahnya terhenti ketika Shindong Imo memanggilnya.

"Wookie, dimana Yesung?"

"Eh...Shindong Imo. Yesung di kamar sedang mengerjakan PR."

"O~ joha! Wookie, nanti sore aku akan ke Incheon dan menginap. Tolong kau periksa PR-nya dan tolong jaga dia ya. Sekarang aku mau mandi dulu."

"A~ ne."
Wookie pun membatalkan niatnya untuk pergi ke pantai. Kemudian beranjak pergi ke kamar Yesung.

"Yesung~ah, Shindong Imo memintaku untuk mengecek PR-mu dan menjagamu hari ini. Ia mau pergi ke Incheon."

"Aku ini bukan anak kecil. Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Hhh~ Yesung~ah, jangan berkata seperti itu. Kau memang masih kecil. Harusnya kau bersyukur Shindong Imo perhatian padamu. Kau tidak tahu kalau semalam ia...." ucapan Wookie terputus ketika Yesung menjatuhkan pensilnya dan menatap Wookie.

"Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah uang, uang, dan uang. Dia akan terus mendapatkan uang jika ia menjagaku. Itu sesuai dengan surat wasiat Appa!"

"Aku yakin bukan itu alasannya. Imo mu itu sangat menyayangimu."

"Anio~ ia itu adalah satu-satunya dongsaeng dr Eomma dan dia tidak pernah memperdulikanku. Setiap hari, ia hanya pulang malam dalam keadaan mabuk."

"Apa Appamu tidak punya kerabat untuk menjagamu?" tanya Wookie dengan nada iba.

"Appa itu berasal dari panti asuhan. Jadi aku tidak punya siapa-siapa lagi."

"Itu tidak benar. Kau masih punya aku yang akan menjagamu. Kau masih punya Imo yang menyayangimu."
Yesung pun tidak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Wookie lalu melanjutkan kembali PR-nya.

"Noona juga akan meninggalkanku," gumam Yesung perlahan.

"Mwo?" tanya Wookie yang tidak mendengar perkataan Yesung tadi.

"Gwaenchana," jawab Yesung singkat. Wookie sangat bingung bagaimana ia harus menghibur Yesung. Yang bisa ia lakukan ganyalah menemaninya di kamar. Setelah satu jam lamanya ia menunggu Yesung mengerjakan PR, Yesung pun membuka mulut karena kesal.

"Sudahlah. Noona pergi saja. Aku mau sendiri.

"Andwae~ aku harus memeriksa PR-mu nanti."

"Kalau gitu, jangan dekat-dekat aku!"

"Siapa yang dekat-dekat denganmu?" sanggah Wookie beringsut menjauh dari Yesung. Ia melihat koleksi buku di lemari Yesung. Tangannya mengambil sebuah buku karya Lee Soo Man yang berjudul "PROMISE to BELIEVE". Sebuah buku yang mengisahkan perjalanan ketiga belas namja daebak dan penuh liku. Sambil menunggu Yesung selesai mengerjakan PR, Wookie membaca buku itu.

"Noona, PR-ku sudah selesai!" seru Wookie beberapa waktu kemudian. Wookie meletakkan buku tersebut ke tempatnya semula.

"Ne. Sini aku periksa."
Wookie melihat sejenak PR Yesung. Materinya adalah perkalian dan pembagian dengan 3 digit angka.

"Yesung~ah, bukankah kau berumur 8 tahun? Itu berarti...hhm...kau kelas 3 SD bukan? Tapi mengapa PR yang kau kerjakan materi pelajaran kelas 5 SD?"

"Ne, yang ku kerjakan memang materi pelajaran kelas 5. Aku loncat 2 tingkat...sekarang aku kelas 5 SD."
Wookie ternganga-nganga mendengar itu.

"Mwo? Jadi, anak yang sok pintar itu.....benar-benar pintar?" batin Wookie.

"Noona! Nih periksa!"

"Ne. Yesung~ah, apa kau punya kalkulator?"

"Punya."

"Sini aku pinjam."

"Eh? Tidak adil dong, aku menghitung susah payah, masa Noona enak-enakan pakai kalkulator."

"Hhh~ ne ne. Aku periksa dulu."

"Ne, aku mau main game dulu ya."

(Beberapa saat kemudian....)

"Noona, udah selesai belum meriksanya? Lama banget sih meriksanya. Gameku saja sudah mencapai level terakhir nih."

"Hhh~ dasar cerewet. Nih! Ada yang salah. Seharusnya ini jawabanny 441 bukan 442."

"Eh? Benar semua kok. Enam dikali tujuh kan empat puluh dua nah ditambah 400 berarti hasilnya 442."

"Ha?"

"Noona ini bagaimana sih? Noona tidak lulus SMA ya?" tanya Yesung meledek.

"Eh? Enak saja. Aku ini lulus SMA."

"Jinjjayo? Hahaha."

"Yasudah kalau kau tidak percaya."

******************************************************************************

(Sementara di tempat yang berbeda....di sebuah pantai)

"Oh rupanya disini kau, Heenim."

"Donghae~ah? Mau apa lagi kau?" tanya Heenim.

"Hha...jadi namjachingumu sekarang adalah si banci ini?"

"Apa maksudmu?! Dia itu bukan banci, Hangeng lebih baik daripadamu!"

"Hha...dasar yeoja tidak punya perasaan, kau sudah melukai perasaanku. Dan ternyata, kau malah memilih si banci ini. Hahaha."

'BUUK!' Sebuah pukulan dari Hangeng mendarat ke muka Donghae.

"Jaga ucapanmu!"

'BUKK!!' Donghae pun membalas pukulan Hangeng.

"HENTIKAN!! Donghae, aku minta kau pergi dari sini!!"

"Ne, aku akan pergi dari sini. Selamat atas kebahagiaan kalian. Dan kau Hangeng, nasibmu pasti akan sama seperti ku nanti. Hha..."
Donghae pun berlalu meninggalkan Hangeng dan Heenim.

"Noneun...jeongmal baboimnida!" ucap Heenim pada Hangeng.

"Mwo? Kenapa kau berbicara itu padaku?"

"Seharusnya kau tidak memukul Donghae."

"Heenim~ah, dengarkan aku. Aku memukul bukan karena dia menghinaku, tapi karena dia menghinamu."

"Hangeng~ ah. Jeongmal mianhae. Aku hanya menyusahkanmu saja. Karena ku, kau jadi seperti ini."

"Gwaenchana, Heenim. Apapun akan ku lakukan untukmu. Kajja! Kita pulang saja."

"Ne, chagi~ah."

*************************************************************************

Hari sudah menjelang sore. Terlihat di ruang keluarga Wookie dan Yesung sedang menonton acara TV Sun King. Bintang tamu yang hadir adalah Super Junior, TVXQ, dan artis-artis lain. Dengan pembawa acaranya yaitu Leeteuk Ahjussi. Di akhir acara, Leeteuk Ahjussi menjelaskan bahwa Super Junior akan mengisi acara di Korean Festival besok.
"Wah! Joha! Berarti aku bisa mengajak Yesung ke Korean Festival dengan alasan menonton performance Super Junior. Sekalian memata-matai Eomma dan Appa...hehehe," umpat Wookie sambil senyum-senyum sendiri.
"Eh? Noona sudah gila ya senyum-senyum sendiri?"
"Ha? Mwo? Wae?"
"Anio~"
"Oh. Yesung~ah, kau dengar tadi? Super Junior akan mengisi acara di Korean Festival!"
"Ne, tentu saja dengar. Pendengaranku kan masih normal. Terus kenapa?"
"Aigo~ ya kita datang ke Korean Festival besok. Eoddeokhe? Mau ya....ya."
"Hemmm..."
"Eh? Mengapa kau memandangku seperti itu?"
"A~ gwaenchana. Baiklah, aku mau!"
"Yes! Rencanaku berhasil...hahaha," batin Wookie.

(Pukul 6.30....)

Malam harinya Yesung menonton episode terakhir SUJU MEGALOMAN. Wookie masuk ke kamar Yesung, dan tatapannya tertuju pada robot berlengan satu yang dia jatuhkan kemarin. Rasa bersalahnya kepada Yesung pun semakin mendarah daging (?)

"Yesung~ ah. Jeongmal mianhae. Robotmu.....," ucapan Wookie pun terputus.

"Sudahlah Noona. Tidak usah membahas itu lagi."

"Berarti....kau sudah memaafkanku bukan?"

"Mmm."

"Yesung~ ah, apa kelerengmu yang biru ini boleh untukku?"

"Tidak boleh. Aku tidak suka memberikan mainanku kepada orang lain."

"Huh! Dasar pelit," kata Wookie kesal, lalu pergi mandi.

**********************************************************************

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Wookie kembali lagi ke kamar Yesung.

"Kenapa lampunya mati? Bukankah tadi dia lagi menonton? Jangan-jangan terjadi apa-apa sama Yesung?" pikir Wookie.

"Yesung~ah?" panggil Wookie perlahan. Ia melihat Yesung yang terkapar di ranjangnya (?). Wookie pun segera mendekatinya.

"Waeyo, Yesung~ah? Apa kau sakit?" tanya Wookie seraya menyalakan lampu. Wookie pun meraba kening Yesung. Rasa panas menjalar di telapak tangannya.

"Yesung~ah, kau demam! Kau harus minum obat dulu."

"Aku sudah minum obat, Noona..." sahut Yesung lemas.

"Yasudah, kau istirahat dulu ya," kata Wookie yang menyelimuti Yesung dengan selimut birunya. Kemudian Wookie berlari ke dapur untuk mengambil air es serta handuk kecil, lalu bergegas kembali ke kamar Yesung. Ia mengompres kening Yesung dengan air es itu terus-menerus selama berjam-jam. Yesung terus mengigau gelisah. Wookie benar-benar merasa sedih melihat keadaan Yesung seperti itu. Entah berapa lama Wookie mengompres kening Yesung. Menjelang tengah malam, panas Yesung akhirnya turun. Wookie merasa lega, tetapi matanya tak sanggup terbuka lagi. Tidak lama kemudian, Wookie tertidur sambil duduk di tepi ranjang Yesung.

--tbc--

bagaimana kisah selanjutnya YeWook di pagi hari berikutnya??
Apakah Yesung akan berterima kasih pada Wookie?
Lalu, bagaimana dengan Korean Festivalnya?
Penasaran?? *gak tuh*
tunggu lagi part selanjutnya ^^

Rabu, 09 Maret 2011

FF YeWook // KyuMin :: Seven Days in The Past (Part. 5)

Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi

Summary : Akhirnya Wookie berhasil menyatukan kedua orang tuanya kembali. Dengan takut ditolak, akhirnya Hengeng memberanikan diri juga untuk menyatakan perasaannya pada Heenim dan mengajaknya menonton film di bioskop. Tetapi karena Wookie takut bila kencan kedua orang tuanya itu gagal, ia dan Yesung pun memata-matai Hangeng dan Heenim ke bioskop.


Esok pagi, Wookie memulai paginya dengan penuh semangat. Hari ini ia harus menyerahkan surat cinta yang sudah dibuatnya susah payah untuk Appanya. Wookie bergegas ke ruang makan.
"Joheun achim!" seru Wookie sambil tersenyum.

"Ne, joheun achim. Cepatlah makan! Aku ada les pagi ini!" sahut Yesung. Wookie hanya tersenyum mendengar perkataan Yesung. Ia pun mengantarkan Yesung ke tempat les bahasa inggris. Seusai Wookie mengantar Yesung ke tempat les, Wookie bergegas menuju kampus kedua orang tuanya. Matanya bersinar saat ia melihat Appanya sedang duduk di bangku taman.

"Hangeng~ah!" panggil Wookie sambil menghampiri Appanya.

"Wookie~ah?"

"Aku sudah membuatkan surat cintamu."
Hangeng tampak terkejut. Dia tidak menyangka yeoja yang ia selamatkan itu benar-benar bersedia membantunya membuat surat cinta.

"Kau benar-benar membuatnya?"

"Ne! Bacalah," jawab Wookie sambil menyodorkan sepucuk surat dari sakunya. Hangeng mengambil surat itu, membukanya, dan mulah membacanya.

Untuk Heenim,
Johahaeyo,
Jeongmal johahaeyo...
Aku sudah mengenalmu selama sepuluh tahun,
Selama itu pula kau sudah menjadi bagian dalam hatiku.
Heenim~ah...maukah kau makan malam denganku hari ini?
Jawablah, "Ya."
Aku berjanji akan menghabiskan 36.000 makan malam berikutnya bersamamu.
Yang mencintaimu,
Hangeng

"Aku suka surat ini," ucap Hangeng seusai membaca surat itu.

"Jinjja? Aku senang kau menyukainya. Jadi, tunggu apa lagi? Kajja kita pergi temui Eomma...hhm....maksudku Heenim!"

"Heenim hari ini tidak kuliah," sahut Hangeng. Mendengar itu, Wookie langsung jatuh duduk di samping Hangeng.

"Omonaaa, padahal aku sudah membuat surat ini semalaman."

"Hhm...aku bisa meneleponnya dan mengajaknya kencan."

"Jinjjayo? Baguslah. Ppali! telepon dia!" ucap Wookie refleks menggenggam tangan Appanya.

"Ne, tapi lepaskan dulu tanganku."

"Hehehe. Mianhae."

"Nah kau mau kemana? Katanya mau menelepon," tanya Wookie terheran-heran.

"Ne, aku memang mau menelepon. Tuh telepon umumnya ada di sana!" jawab Hangeng sambil menunjuk ke arah telepon umum.

"Oh iya aku lupa. Di masa ini kan belum banyak orang yang sudah punya handphone," batin Wookie. Wookie mengikutin Appa nya ke telepon umum. Di saat tangannya sudah menggenggam telepon tersebut, Hangeng pun menjadi keringat dingin. Dan meletakkan telepon itu ke tempatnya lagi.

"Mengapa tidak jadi? Kajja! Telepon Heenim."

"Aku...a...aku...aku malu. Bagaimana bila dia menolak ajakanku?"

"Yasudah sini! Aku yang memutar nomornya. Kau tinggal bicara. Berapa nomornya?"

"Aniya~ aku saja."

"Well, ppali! Lakukan," ucap Wookie dengan nada kesal. Hangeng mengangkat gagang telepon lagi dan mulai memutar nomor telepon Heenim.

"Yeoboseyo. Heenim~ah? Hangeng imnida. Aku hanya ingin tahu, apakah hari ini kau ada waktu untuk menemuiku?"

"Jinjjayo? Ne, ada yang ingin ku berikan padamu. Tunggu aku jam tiga di rumahmu ya!" Hangeng pun menutup teleponnya. Sesaat ia terdiam, lalu loncat-loncat kegirangan (?).

"Wookie~ah, dia mau menemuiku dan aku akan mengajaknya pergi nanti sore!"

"Joha! Lalu, kau akan mengajaknya kemana?"

"Aku akan mengajaknya ke bioskop. Gomapta atas bantuanmu."

"Ne, aku senang bisa membantumu."
Seketika ia melihat jam yang melingkar di tangannya, ia baru sadar bahwa ia sudah telat menjemput Yesung.

"Aku harus pergi sekarang! Semoga kencan kalian sukses. Annyeong!"

"Ne, annyeong. Gomapta!"

********************************************************************************

(Di tempat les Yesung....)

"Noona! Kau terlambat!" seru Yesung.

"Aku tahu. Mianhae, Yesung~ah. Aku tadi menemui Appa lagi. Akhirnya, Appa dan Eomma akan berkencan!"

"Kau tahu berapa lama aku menunggumu disini? Hhh~ les bahasa Jepangku akan dimulai sebentar lagi. Kajja! Kita pergi sekarang!"

"Mwo?! Tidak ada acara makan siang dulu apa?" tanya Wookie sambil memegangi perutnya.

"Hhh~ ini sudah pukul berapa?" dengus Yesung.
Wookie menginjak pedal sepedanya dengan loyo karena kelaparan. Akhirnya mereka berhenti di sebuah gedung, tempat les Yesung. Melihat tampang Wookie yang memelas, hati Yesung sedikit tergerak.

"Di dalam ada kantin. Kau bisa makan disana."

"Jinjja?" tanya Wookie penuh senyum lalu memarkirkan sepedanya dan berjalan ke arah kantin. Selama menunggu Yesung, wajah Wookie berseri-seri sambil memakan ramen yang ada di hadapannya. Misinya untuk menyatukan kedua orang tuanya telah berhasil dan tinggal melihat perkembangan selanjutnya saja.
Wookie bosan menunggu di kantin sendirian. Saat itu jam sudah menunjukan pukul dua lewat tiga belas menit, namun Yesung belum selesai juga. Tak lama lama kemudian, akhirnya Yesung muncul dari luar kantin. Wookie pun mengajaknya bergegas menuju sepedanya.

"Waeyo?" tanya Yesung.

"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Ppali! Kita akan ngebut!" jawab Wookie.

"MWO?? Arghhh!" teriak Yesung saat Wookie mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi.

"Noona, pelan-pelan!"

"Andwae!" Wookie ngotot. Rem sepeda mendecit. Tak juh dari tempat mereka berhenti, sebuah rumah besar bercat cokelat berdiri tegak.

"Jigeum, kita mau apa?" tanya Yesung seraya meredakan jantungnya yang berdegup kencang.

"Menunggu."

"Mwo? Apa yang kita tunggu?" tanya Yesung penasaran. Tiba-tiba suara sepeda motor mendekati area rumah itu.
"Igo!" tunjuk Wookie sambil tersenyum.

"Kita ada dimana?" tanya Yesung keras-keras.

"Sst! Jangan berisik!" bisik Wookie seraya membekap mulut Yesung.

*kasian amat Yesung oppa*

"Kalau begitu, jawab dulu pertanyaanku. Kita ada dimana?"

"Itu rumah Eommaku. Hari ini Appa akan mengajak Eomma kencan."

"Hhh~ lalu apa urusannya dengan kita?" Yesung menghela napas.

"Tentu saja ada. Aku ingin memastikan kencan mereka berjalan lancar. Ah lihat! Eommaku sudah keluar. Appa! Hwaiting!"
Terlihat di kejauhan sana Hangeng memberikan surat cinta di tangannya kepada Heenim dengan gugup.

"Untukmu," kata Hangeng perlahan. Heenim membaca surat itu dengan rasa ingin tahu.

"Omona! Ternyata selama ini, Hangeng.....Mengapa aku tidak mengetahuinya dari dulu?" batin Heenim.

"Bagaimana menurutmu? Apakah kau mau menerimaku?" ucap Hangeng yang memecahkan lamunan Heenim.

"Hhh~ kau tahu? Selama ini aku selalu mengganggapmu chingu. Tapiiii...."

"Tapi apa?"

"Setelah melihat isi suratmu, aku rasa aku ingin memberimu kesempatan."

"Jinjja?"

"Ne."

"Gomapta, Heenim. Kau pasti tidak akan menyesal."

"Aku harap begitu."

"Ne. Jadi, apa kau mau bila sekarang ku ajak ke bioskop?"

"Ne, tentu saja."

"Akhirnya setelah bertahun-tahun menunggu, aku bisa kencan dengan Heenim. Hari ini benar-benar hari paling indah semasa hidupku," pikir Hangeng. Wookie yang melihat Eommanya dibonceng Appanya langsung girang melebihi batas. (?)

"Omo! Berhasil! Appa berhasil kencan dengan Eomma. Horeee! Hahahahaa."

"Noona, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Yesung akhirnya.

"Ne, kajja kita pulang," jawab Wookie. Yesung pun menarik napas lega.

"Setelah itu, kita pergi ke bioskop," kata Wookie lagi.

"Mwoooo??" protes Yesung.

**************************************************************************

(Sore hari di bioskop.....)

"Apa Noona yakin memata-matai orang yang pacaran adalah ide yang bagus?" keluh Yesung, yang sedang duduk di samping Wookie di bangku bioskop.

"Hhh~ sebenarnya aku sangat malas menemaninya ke bioskop," gumam Yesung dalam hati. Mereka pun masuk ke dalam bioskop setelah menunggu sampai film telah diputar dan lampu-lampu dimatikan agar Yesung bisa masuk dengan mudah.

"Noona, aku mau pulang saja!"

"Sst! Jangan berisik ya. Aku hanya ingin memastikan bahwa kencan mereka lancar. Pasti mereka tidak akan keberatan," jelas Wookie sambil mengamati pasangan yang berada dua bangku di bawah mereka.

"Tentu saja mereka tidak akan keberatan. Mereka kan tidak tahu kalau Noona sedang mengawasi mereka."

"Sudahlah. Kau duduk manis saja dan nikmati filmnya. Aku masih punya tugas."
Yesung menggeleng dan duduk diam memandang layar bioskop. Pandangan Wookie tidak lepas dari kedua orang tuanya. Ia melihat Appanya menawarkan minuman kepada Eommanya. Dari atas, Wookie tersenyum. Setelah lima belas menit, tangan Hangeng mencoba merangkul pundak Heenim. Tiba-tiba Heenim menengok ke arah Hangeng dan Hangeng pun mengurungkan niatnya dengan pura-pura menguap.

"Yah! Appa payah!" bisik Wookie. Setelah menunggu setengah jam dengan mata tak kenal lelah mengamati kedua orang tuanya itu, akhirnya Wookie menyerah dan menyandarkan punggungnya ke bangku bioskop. Tak lama kemudian, tiba-tiba Wookie duduk tegak kembali.

"Tunggu....tunggu. Itu kan tangan Appa? Omo! Akhirnya Appa menggenggam tangan Eomma juga...hohoho," ucapnya dalam hati. Setelah senang melihat kedua orang tuanya sedang berpegangan tangan, barulah Wookie melihat ke arah layar bioskop. Ia baru sadar kalau film yang ia tonton adalah film horor. Ketika sang hantu berbaju putih dipenuhi darah memenuhi layar, Wookie menjerit keras sambil menggenggam tangan di sebelanya dengan erat. Spontan teriakannya itu membuat semua orang memandang ke arahnya, termasuk kedua orang tuanya.

"hhm...sampai kapan Noona akan menggenggam tanganku seperti ini?"

"Eh? Hehehe...mianhae," jawab Wookie nyengir. Sementara itu Yesung mengusap-usap tangannya yang tadi dicengkram oleh Wookie. Wookie pun kembali memantau kedua orang tuanya lagi tanpa merasa lelah. Tak berlangsung lama, Wookie akhirnya menyerah. Ia tertidur pulas di bangku bioskop.

"Mwo? Bisa-bisanya ia tertidur pulas, padahal tadi ia berteriak keras seperti orang gila," gumam Yesung. Ia pun melanjutkan menonton film bioskopnya.

*oppa juga gila tuh ngomong sendirian (?)*

(30 menit kemudian....)

Yesung menusukkan jarinya ke lengan Wookie.

"Noona, ireona!"

"Aigoo~ waeyo?"

"Hhh~ filmnya sudah selesai. Kajja! Kita pulang."

"Mwo? Sudah selesai? Lalu kemana orang tuaku? Bagaimana kencan mereka tadi? Apa mereka bertengkar?" tanya Wookie celingak-celinguk memandangi isi bioskop yang sudah kosong.

"Molla. Mungkin mereka sudah pulang. Dan aku tidak memperhatikan mereka. Kajja kita pulang saja."

"Padahal aku memperhatikan mereka.....hahahahaha," umpat Yesung.

"Aigo~ mengapa kau tidak mengawasi mereka."

"Hey! Ini kan tugas Noona bukan tugasku. Tapi Noona tertidur."

"A~ mianhae, Yesung~ah...hehehe."

"Udah salah, nyalahin orang pula, malah nyengir lagi...ckckck."

"kekeke...kajja! Kita pulang saja!"

"Ne."

***************************************************************************

(Di rumah....)

Setibanya mereka di rumah. Mereka memasuki kamarnya masing-masing. Merasa bosan di kamar, akhirnya Wonkie memutuskan untuk ke kamar Yesung.

'TOK! TOK!'

"Yesung~ah, kau tidak tidurkan?"

"Aniya~ masuk saja."

'KREKK!' Wookie pun membuka pintu kamar Yesung.

"Kau sedang apa?"

"Tidak sedang apa-apa. Kau mau apa?"

"Aniya~ aku hanya bosan sendirian di kamar. Makanya aku ke kamarmu."

"Oh."

"Hey! Yesung~ah, mainan apa ini?" ucap Wookie sambil menunjuk salah satu mainan di antara deretan mainan lainnya.

"Itu Yoyo."

"Mwo? Bagaimana cara memainkannya?" tanya Wookie seraya mencoba memainkan yoyo itu. Tiba-tiba.....
'PRAAAK!' Sebuah robot super junior jatuh dan rusak akibat tersenggol yoyo yang dimainkan Wookie.

"Omona! Mainanku!" teriak Yesung.

"Ye....Yesung....mianhae. Aku tidak sengaja."

"Keluar!"

"Tapi...."

"Aku bilang keluar!!"
Akhirnya Wookie keluar dari kamar Yesung. Wookie benar-benar merasa bersalah atas apa yang ia perbuat tadi. Semalaman Wookie tidak bisa tidur memikirkan kejadian itu.

"Pasti Yesung akan sangat marah sekali padaku. Hhh~ Aku ini jeongmal baboimnida, sudah tahu Yesung itu tidak suka kalau mainannya disentuh, sedangkan aku malah merusakan mainannya. ARRRGGH! BABO!"

'KRIK! KRIK! KRIK!' -------sunyi-------------

"Aha! Aku punya ide. Aku melakukan sesuatu untuk Yesung. Aku yakin, pasti dia akan memaafkanku."
Tiba-tiba terdengar suara dari lantai bawah. Wookie yang mendengar suara itu sangat jelas langsung menuju ke lantai bawah.

"Mwo? Tidak ada apapun disini. Lalu tadi suara apa?"
Dengan ketakutan, Wookie kembali ke lantai dua. Saat hendak melewati kamarnya, ia melihat kamar Yesung terbuka lebar.

"Shindong Imo?"

"Yesung~ah, mianhae. Jeongmal mianhaeyo. Aku tidak ada maksud untuk menjauhimu. Imo sangat menyayangimu. Tapi, setiap kali aku melihatmu, entah kenapa aku selalu ingat Eommamu yang sudah meninggal. Aku sangat terpukul dengan hal itu. Mianhae," jelas Shindong Imo sambil menitihkan air mata.

"Ternyata Shindong Imo sangat menyayangi keponakannya. Tetapi ia tidak pernah menunjukkan itu kepada Yesung."
Karena Wookie takut Shindong Imo melihatnya, ia pun bergegas menuju kamarnya lagi.

--tbc--

nah, bagaimana chingudeul, saengideul, eonnideul ff part 5 nya?? Tambah ngaco kah? (?)
Ditunggu ya RCLnya ^^
gomawo udah mau baca.....