Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi
Summary : Demi mendapatkan permohonan maaf dari Yesung, Wookie rela memasak masakan untuknya dan pergi ke pasar ikan untuk membeli udang. Alhasil, usahanya Wookie tidak sia-sia. Yesung menyukai masakan Wookie yang katanya mirip masakan Eommanya, tapi Yesung gengsi mengakui hal itu. Di tempat yang berbeda, terjadilah pertengkaran Hangeng dan Donghae karena berebutan Heenim.
Hari ini Wookie bangun pagi-pagi sekali. Hari ini ia berniat memasak untuk Yesung, dengan harapan Yesung bisa memaafkannya akibat ulahnya kemarin. Terlihat Koki Kangin yang sudah ada di dapur semenjak tadi. Wookie langsung menuju kesana.
"Joheun achim, Koki Kangin," sapa Wookie sambil membungkukan badannya.
"Joheun achim Wookie-ssi."
"Koki Kangin?"
"Ne, waeyo, Wookie-ssi?"
"Apa kau tau apa makanan kesukaan Yesung?"
"Dia hampir suka semua makanan. Tetapi dia paling suka nasi goreng kimchi."
"Jinjja?" tanya Wookie.
"Itu sih juga makanan kesukaanku. Dulu Eomma pernah mengajariku buat masakan itu," ucap Wookie lagi pelan.
"Memangnya ada apa, Wookie-ssi?"
"Anio~ hari ini saya akan masak untuk Yesung. Gomapsseumnida, Koki Kangin."
"Ne. Tapi, udangnya sudah habis. Nanti siang baru mau saya beli."
"Hhm...begini saja, biar saya saja yang beli udangnya. Koki Kangin tinggal menunjukan dimana super marketnya."
"Biar saya saja. Soalnya belinya di pasar ikan."
"Mwo? Pasar ikan? Pasar ikan kan becek, bau, dan......kalau kulitku rusak gimana? Ah tapi, ini demi Yesung agar dia mau memaafkanku." umpat Wookie.
"Gwaenchana, Koki Kangin. Biar saya saja, lagi pula saya sekalian olahraga naik sepeda," tegas Wookie. Koki Kangin akhirnya memberitahu letak pasar ikan tersebut dan Wookie akhirnya pergi menggunakan sepeda. Kaki Wookie mulai mengayuh sepeda keluar rumah, bibirnya bersiul-siul gembira.
"Pasti Yesung akan tersentuh begitu tahu kalau aku bersusah payah memasak unttknya. Lalu dia akan memaafkanku. Omo! Wookie, kau memang cerdas...hahaha," ucapnya dalam hati.
(Setibanya di pasar ikan....)
"Ternyata pasarnya sudah penuh! Aigoo~"
Wookie sampai berdesak-desakan dengam para ibu rumah tangga. Setelah berkutat selama dua jam lamanya dengan keringat yang mengalir deras di keningnya (?), Wookie berhasil mendapatkan udang yang ia butuhkan untuk nasi goreng kimchi. Ia pun segera pulang ke rumah Yesung. Dalam perjalanan pulang, Wookie mampir dulu di rumah Hangeng. Ia menghentikan sepedanya dan melihat rumahnya.
"Sebentar lagi aku akan pulang!" batin Wookie.
'CIIIIITT!' Tiba-tiba suara gerbang dibuka mengalihkan pikiran Wookie. Sebuah motor keluar dari sana. Wookie lalu mengayuh sepedanya mendekati Hangeng.
"Ya! Hangeng!" teriaknya dari kejauhan. Appanya itu celingak-celinguk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Sepeda Wookie sampai di dekat sepeda motor Appanya.
"Annyeong. Mau kemana kau pagi-pagi begini?"
"Annyeong, Wookie~ah. Aku ingin bertemu Heenim."
"Jinjja? Joha! Jadi, kencan kalian kemarin berhasil kan?"
"Ne. Kenapa kau bisa ada disini."
"Eh? Mmm...rumahku dekat sini. Aku baru pulang dari pasar ikan. Jadi, hari ini kau dan Heenim akan kemana?"
"Oh. Aku akan mengajaknya ke pantai. Dan besok kami akan ke Korean Festival."
"Joha!"
"Aku harus pergi sekarang."
"Arraseo. Semoga kencannya berhasil, ya. Hwaiting!"
"Gomapta," Hangeng berlalu dengan motornya.
"Mwo? Bukankah itu Hyuk Halmeoni dan Siwon Harabeoji? Aku sangat merindukan mereka. Aku harus menemui mereka," ungkap Wookie antusias. Ia menyenderkan sepedanya di dinding pagar lalu masuk ke dalam rumah itu.
'TOK! TOK!'
"Nuguseyo? Mau cari siapa?" tanya Siwon yang membukakan pintu. Tanpa ada jawaban, Wookie langsung memeluk harabeojinya itu.
"Bogoshipeo!" ucap Wookie dalam pelukan.
"Hey! Nak! Apa maksudmu?" seru Siwon berusaha melepaskan pelukan Wookie.
"Papi! Ada tamu ya? Siapa tamunya? Apa teman arisan Mami?" teriak Hyuk dari kejauhan. Lalu Hyuk menghampiri Siwon.
"Papi, siapa dia?"
"Molla, Mam."
"Mollayo? Lalu kenapa dia memeluk Papi? Apa ini yeoja selingkuhan Papi?" tanya Hyuk sambil memukul-mukul Siwon. Mendengar suara Hyuk, Halmeoninya, Wookie langsung berpindah memeluk Hyuk.
"Bogoshipeo, Hyuk Halmeoni," ucap Wookie seraya memeluk Wookie. Setelah lima menit Wookie melepas rindu dengan Halmeoni dan Harabeojinya, ia pun pamit pulang.
"Mianhaeyo. Harabeoji...Halmeoni. Sebentar lagi aku akan pulang," kata Wookie kepada Halmeoni dan Harabeojinya. Ia pun bergegas pergi meninggalkan rumah itu.
"Papi," ucap Hyuk.
"Ne, Mami."
"Papi dengar tadi? Halmeoni? Harabeoji?"
"Ne, Papi juga bingung. Kita kan hanya punya seorang anak yaitu Hangeng. Dan dia belum menikah."
"Ne. Hhh~ dunia memang sudah aneh."
"Mungkin ini faktor umur kita juga kali ya, Mam, yang semakin tua?"
"Iya kali ya, Pap."
"Yasudahlah. Kita masuk saja ke dalam."
Siwon dan Hyuk masuk ke dalam rumah dengan penuh pertanyaan besar.
(Di rumah Yesung...)
"Aku pulang!" seru Wookie seraya menuju ke dapur."
"Kau sudah pulang Wookie-ssi?"
"Ne, Koki Kangin. Ini! Aku sudah dapat udangnya. Hhh~ baru pertama kalinya aku ke pasar ikan," Wookie sedikit mengeluh. Mendengar ucapan Wookie, Koki Kangin langsung tertawa kecil.
"Yasudah. Aku mau masak sekarang, ya, Koki Kangin."
"Ne, apa perlu saya bantu?"
"Anio~"
"Mmm. Kalau kau butuh bantuanku, panggil saya saja."
"Ne. Gomapsseumnida."
(Setengah jam kemudian....)
"Yeah! Nasi gorengnya sudah selesai. Koki Kangin, tolong letakan ini di meja makan ya."
"Ne," jawab Koki Kangin singkat. Ia pun langsung menuju ke meja makan untuk menyajikan nasi goreng kimchi ala Wookie.
"Wah! Nasi goreng kimchi!" tanpa bicara panjang lebar, Yesung langsung menyerbu nasi goreng kimchi yang diletakkan di meja makan itu. Ia menyendokannya ke piringnya lalu suap demi suapan masakan itu dilahapnya.
"A~ masitta!" seru Yesung.
"Jinjja? Masakanku enak?" tiba-tiba suara Wookie dari arah dapur menghilangkan selera makan Yesung.
"Ini....masakan Noona?"
"Ne."
"Hhm...terlalu asin, tidak ada rasa khasnya."
"Eh? Bukankah tadi katamu itu enak?"
"A~ anio. Kau salah dengar."
"Hhh~ yasudahlah. Kalau kau tak suka, buang saja. Niatku hanya ingin menebus kesalahanku karena telah membuat robotmu rusak."
"Sudahlah Noona. Tidak usah membahas masalah robot lagi. Aku sudah memaafkanmu. Yasudah, aku ingin sarapan dulu."
"Ne, gomapta, Yesung. Tadi katamu masakanku tidak enak?"
"Daripada dibuang, mending aku makan saja."
"Sebenarnya masakan Noona sangat pas sekali. Mirip dengan buatan Eomma," umpat Yesung dalam hati.
Setelah sarapan, Wookie menemani Yesung menonton TV. Di tengah-tengah keasikan mereka menonton TV, tiba-tiba Wookie membuka pembicaraan.
"Yesung~ah, apa kau mau ke pantai saat ini?"
"Mwo? Ke pantai siang bolong begini? Tidak mau! Untuk apa kesana?"
"Untuk melihat orang tuaku," umpat Wookie dalam hati.
"Hhm...aku bosan di rumah terus," ucap Wookie berbohong. Yesung menatap Wookie curiga.
"Jangan-jangan...Noona mau mengikuti mereka itu lagi, ya?"
"Sial! Ketauan. Ini anak kayak dukun juga lama-lama," gerutu Wookie dalam hati.
"Tapi, Yesung~ah. Aku hanya ingin tahu saja."
"Andwae~ aku mau mengerjakan tugas PR ku," jawab Yesung tegas sambil berlalu ke kamarnya dan menutup pintu.
"Hhh~ yasudah, aku pergi sendiri saja," keluh Wookie pada dirinya sendiri. Ia pun berjalan menuju pintu keluar. Tetapi langkahnya terhenti ketika Shindong Imo memanggilnya.
"Wookie, dimana Yesung?"
"Eh...Shindong Imo. Yesung di kamar sedang mengerjakan PR."
"O~ joha! Wookie, nanti sore aku akan ke Incheon dan menginap. Tolong kau periksa PR-nya dan tolong jaga dia ya. Sekarang aku mau mandi dulu."
"A~ ne."
Wookie pun membatalkan niatnya untuk pergi ke pantai. Kemudian beranjak pergi ke kamar Yesung.
"Yesung~ah, Shindong Imo memintaku untuk mengecek PR-mu dan menjagamu hari ini. Ia mau pergi ke Incheon."
"Aku ini bukan anak kecil. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Hhh~ Yesung~ah, jangan berkata seperti itu. Kau memang masih kecil. Harusnya kau bersyukur Shindong Imo perhatian padamu. Kau tidak tahu kalau semalam ia...." ucapan Wookie terputus ketika Yesung menjatuhkan pensilnya dan menatap Wookie.
"Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah uang, uang, dan uang. Dia akan terus mendapatkan uang jika ia menjagaku. Itu sesuai dengan surat wasiat Appa!"
"Aku yakin bukan itu alasannya. Imo mu itu sangat menyayangimu."
"Anio~ ia itu adalah satu-satunya dongsaeng dr Eomma dan dia tidak pernah memperdulikanku. Setiap hari, ia hanya pulang malam dalam keadaan mabuk."
"Apa Appamu tidak punya kerabat untuk menjagamu?" tanya Wookie dengan nada iba.
"Appa itu berasal dari panti asuhan. Jadi aku tidak punya siapa-siapa lagi."
"Itu tidak benar. Kau masih punya aku yang akan menjagamu. Kau masih punya Imo yang menyayangimu."
Yesung pun tidak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Wookie lalu melanjutkan kembali PR-nya.
"Noona juga akan meninggalkanku," gumam Yesung perlahan.
"Mwo?" tanya Wookie yang tidak mendengar perkataan Yesung tadi.
"Gwaenchana," jawab Yesung singkat. Wookie sangat bingung bagaimana ia harus menghibur Yesung. Yang bisa ia lakukan ganyalah menemaninya di kamar. Setelah satu jam lamanya ia menunggu Yesung mengerjakan PR, Yesung pun membuka mulut karena kesal.
"Sudahlah. Noona pergi saja. Aku mau sendiri.
"Andwae~ aku harus memeriksa PR-mu nanti."
"Kalau gitu, jangan dekat-dekat aku!"
"Siapa yang dekat-dekat denganmu?" sanggah Wookie beringsut menjauh dari Yesung. Ia melihat koleksi buku di lemari Yesung. Tangannya mengambil sebuah buku karya Lee Soo Man yang berjudul "PROMISE to BELIEVE". Sebuah buku yang mengisahkan perjalanan ketiga belas namja daebak dan penuh liku. Sambil menunggu Yesung selesai mengerjakan PR, Wookie membaca buku itu.
"Noona, PR-ku sudah selesai!" seru Wookie beberapa waktu kemudian. Wookie meletakkan buku tersebut ke tempatnya semula.
"Ne. Sini aku periksa."
Wookie melihat sejenak PR Yesung. Materinya adalah perkalian dan pembagian dengan 3 digit angka.
"Yesung~ah, bukankah kau berumur 8 tahun? Itu berarti...hhm...kau kelas 3 SD bukan? Tapi mengapa PR yang kau kerjakan materi pelajaran kelas 5 SD?"
"Ne, yang ku kerjakan memang materi pelajaran kelas 5. Aku loncat 2 tingkat...sekarang aku kelas 5 SD."
Wookie ternganga-nganga mendengar itu.
"Mwo? Jadi, anak yang sok pintar itu.....benar-benar pintar?" batin Wookie.
"Noona! Nih periksa!"
"Ne. Yesung~ah, apa kau punya kalkulator?"
"Punya."
"Sini aku pinjam."
"Eh? Tidak adil dong, aku menghitung susah payah, masa Noona enak-enakan pakai kalkulator."
"Hhh~ ne ne. Aku periksa dulu."
"Ne, aku mau main game dulu ya."
(Beberapa saat kemudian....)
"Noona, udah selesai belum meriksanya? Lama banget sih meriksanya. Gameku saja sudah mencapai level terakhir nih."
"Hhh~ dasar cerewet. Nih! Ada yang salah. Seharusnya ini jawabanny 441 bukan 442."
"Eh? Benar semua kok. Enam dikali tujuh kan empat puluh dua nah ditambah 400 berarti hasilnya 442."
"Ha?"
"Noona ini bagaimana sih? Noona tidak lulus SMA ya?" tanya Yesung meledek.
"Eh? Enak saja. Aku ini lulus SMA."
"Jinjjayo? Hahaha."
"Yasudah kalau kau tidak percaya."
******************************************************************************
(Sementara di tempat yang berbeda....di sebuah pantai)
"Oh rupanya disini kau, Heenim."
"Donghae~ah? Mau apa lagi kau?" tanya Heenim.
"Hha...jadi namjachingumu sekarang adalah si banci ini?"
"Apa maksudmu?! Dia itu bukan banci, Hangeng lebih baik daripadamu!"
"Hha...dasar yeoja tidak punya perasaan, kau sudah melukai perasaanku. Dan ternyata, kau malah memilih si banci ini. Hahaha."
'BUUK!' Sebuah pukulan dari Hangeng mendarat ke muka Donghae.
"Jaga ucapanmu!"
'BUKK!!' Donghae pun membalas pukulan Hangeng.
"HENTIKAN!! Donghae, aku minta kau pergi dari sini!!"
"Ne, aku akan pergi dari sini. Selamat atas kebahagiaan kalian. Dan kau Hangeng, nasibmu pasti akan sama seperti ku nanti. Hha..."
Donghae pun berlalu meninggalkan Hangeng dan Heenim.
"Noneun...jeongmal baboimnida!" ucap Heenim pada Hangeng.
"Mwo? Kenapa kau berbicara itu padaku?"
"Seharusnya kau tidak memukul Donghae."
"Heenim~ah, dengarkan aku. Aku memukul bukan karena dia menghinaku, tapi karena dia menghinamu."
"Hangeng~ ah. Jeongmal mianhae. Aku hanya menyusahkanmu saja. Karena ku, kau jadi seperti ini."
"Gwaenchana, Heenim. Apapun akan ku lakukan untukmu. Kajja! Kita pulang saja."
"Ne, chagi~ah."
*************************************************************************
Hari sudah menjelang sore. Terlihat di ruang keluarga Wookie dan Yesung sedang menonton acara TV Sun King. Bintang tamu yang hadir adalah Super Junior, TVXQ, dan artis-artis lain. Dengan pembawa acaranya yaitu Leeteuk Ahjussi. Di akhir acara, Leeteuk Ahjussi menjelaskan bahwa Super Junior akan mengisi acara di Korean Festival besok.
"Wah! Joha! Berarti aku bisa mengajak Yesung ke Korean Festival dengan alasan menonton performance Super Junior. Sekalian memata-matai Eomma dan Appa...hehehe," umpat Wookie sambil senyum-senyum sendiri.
"Eh? Noona sudah gila ya senyum-senyum sendiri?"
"Ha? Mwo? Wae?"
"Anio~"
"Oh. Yesung~ah, kau dengar tadi? Super Junior akan mengisi acara di Korean Festival!"
"Ne, tentu saja dengar. Pendengaranku kan masih normal. Terus kenapa?"
"Aigo~ ya kita datang ke Korean Festival besok. Eoddeokhe? Mau ya....ya."
"Hemmm..."
"Eh? Mengapa kau memandangku seperti itu?"
"A~ gwaenchana. Baiklah, aku mau!"
"Yes! Rencanaku berhasil...hahaha," batin Wookie.
(Pukul 6.30....)
Malam harinya Yesung menonton episode terakhir SUJU MEGALOMAN. Wookie masuk ke kamar Yesung, dan tatapannya tertuju pada robot berlengan satu yang dia jatuhkan kemarin. Rasa bersalahnya kepada Yesung pun semakin mendarah daging (?)
"Yesung~ ah. Jeongmal mianhae. Robotmu.....," ucapan Wookie pun terputus.
"Sudahlah Noona. Tidak usah membahas itu lagi."
"Berarti....kau sudah memaafkanku bukan?"
"Mmm."
"Yesung~ ah, apa kelerengmu yang biru ini boleh untukku?"
"Tidak boleh. Aku tidak suka memberikan mainanku kepada orang lain."
"Huh! Dasar pelit," kata Wookie kesal, lalu pergi mandi.
**********************************************************************
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Wookie kembali lagi ke kamar Yesung.
"Kenapa lampunya mati? Bukankah tadi dia lagi menonton? Jangan-jangan terjadi apa-apa sama Yesung?" pikir Wookie.
"Yesung~ah?" panggil Wookie perlahan. Ia melihat Yesung yang terkapar di ranjangnya (?). Wookie pun segera mendekatinya.
"Waeyo, Yesung~ah? Apa kau sakit?" tanya Wookie seraya menyalakan lampu. Wookie pun meraba kening Yesung. Rasa panas menjalar di telapak tangannya.
"Yesung~ah, kau demam! Kau harus minum obat dulu."
"Aku sudah minum obat, Noona..." sahut Yesung lemas.
"Yasudah, kau istirahat dulu ya," kata Wookie yang menyelimuti Yesung dengan selimut birunya. Kemudian Wookie berlari ke dapur untuk mengambil air es serta handuk kecil, lalu bergegas kembali ke kamar Yesung. Ia mengompres kening Yesung dengan air es itu terus-menerus selama berjam-jam. Yesung terus mengigau gelisah. Wookie benar-benar merasa sedih melihat keadaan Yesung seperti itu. Entah berapa lama Wookie mengompres kening Yesung. Menjelang tengah malam, panas Yesung akhirnya turun. Wookie merasa lega, tetapi matanya tak sanggup terbuka lagi. Tidak lama kemudian, Wookie tertidur sambil duduk di tepi ranjang Yesung.
--tbc--
bagaimana kisah selanjutnya YeWook di pagi hari berikutnya??
Apakah Yesung akan berterima kasih pada Wookie?
Lalu, bagaimana dengan Korean Festivalnya?
Penasaran?? *gak tuh*
tunggu lagi part selanjutnya ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar