Rabu, 09 Maret 2011

FF YeWook // KyuMin :: Seven Days in The Past (Part. 5)

Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi

Summary : Akhirnya Wookie berhasil menyatukan kedua orang tuanya kembali. Dengan takut ditolak, akhirnya Hengeng memberanikan diri juga untuk menyatakan perasaannya pada Heenim dan mengajaknya menonton film di bioskop. Tetapi karena Wookie takut bila kencan kedua orang tuanya itu gagal, ia dan Yesung pun memata-matai Hangeng dan Heenim ke bioskop.


Esok pagi, Wookie memulai paginya dengan penuh semangat. Hari ini ia harus menyerahkan surat cinta yang sudah dibuatnya susah payah untuk Appanya. Wookie bergegas ke ruang makan.
"Joheun achim!" seru Wookie sambil tersenyum.

"Ne, joheun achim. Cepatlah makan! Aku ada les pagi ini!" sahut Yesung. Wookie hanya tersenyum mendengar perkataan Yesung. Ia pun mengantarkan Yesung ke tempat les bahasa inggris. Seusai Wookie mengantar Yesung ke tempat les, Wookie bergegas menuju kampus kedua orang tuanya. Matanya bersinar saat ia melihat Appanya sedang duduk di bangku taman.

"Hangeng~ah!" panggil Wookie sambil menghampiri Appanya.

"Wookie~ah?"

"Aku sudah membuatkan surat cintamu."
Hangeng tampak terkejut. Dia tidak menyangka yeoja yang ia selamatkan itu benar-benar bersedia membantunya membuat surat cinta.

"Kau benar-benar membuatnya?"

"Ne! Bacalah," jawab Wookie sambil menyodorkan sepucuk surat dari sakunya. Hangeng mengambil surat itu, membukanya, dan mulah membacanya.

Untuk Heenim,
Johahaeyo,
Jeongmal johahaeyo...
Aku sudah mengenalmu selama sepuluh tahun,
Selama itu pula kau sudah menjadi bagian dalam hatiku.
Heenim~ah...maukah kau makan malam denganku hari ini?
Jawablah, "Ya."
Aku berjanji akan menghabiskan 36.000 makan malam berikutnya bersamamu.
Yang mencintaimu,
Hangeng

"Aku suka surat ini," ucap Hangeng seusai membaca surat itu.

"Jinjja? Aku senang kau menyukainya. Jadi, tunggu apa lagi? Kajja kita pergi temui Eomma...hhm....maksudku Heenim!"

"Heenim hari ini tidak kuliah," sahut Hangeng. Mendengar itu, Wookie langsung jatuh duduk di samping Hangeng.

"Omonaaa, padahal aku sudah membuat surat ini semalaman."

"Hhm...aku bisa meneleponnya dan mengajaknya kencan."

"Jinjjayo? Baguslah. Ppali! telepon dia!" ucap Wookie refleks menggenggam tangan Appanya.

"Ne, tapi lepaskan dulu tanganku."

"Hehehe. Mianhae."

"Nah kau mau kemana? Katanya mau menelepon," tanya Wookie terheran-heran.

"Ne, aku memang mau menelepon. Tuh telepon umumnya ada di sana!" jawab Hangeng sambil menunjuk ke arah telepon umum.

"Oh iya aku lupa. Di masa ini kan belum banyak orang yang sudah punya handphone," batin Wookie. Wookie mengikutin Appa nya ke telepon umum. Di saat tangannya sudah menggenggam telepon tersebut, Hangeng pun menjadi keringat dingin. Dan meletakkan telepon itu ke tempatnya lagi.

"Mengapa tidak jadi? Kajja! Telepon Heenim."

"Aku...a...aku...aku malu. Bagaimana bila dia menolak ajakanku?"

"Yasudah sini! Aku yang memutar nomornya. Kau tinggal bicara. Berapa nomornya?"

"Aniya~ aku saja."

"Well, ppali! Lakukan," ucap Wookie dengan nada kesal. Hangeng mengangkat gagang telepon lagi dan mulai memutar nomor telepon Heenim.

"Yeoboseyo. Heenim~ah? Hangeng imnida. Aku hanya ingin tahu, apakah hari ini kau ada waktu untuk menemuiku?"

"Jinjjayo? Ne, ada yang ingin ku berikan padamu. Tunggu aku jam tiga di rumahmu ya!" Hangeng pun menutup teleponnya. Sesaat ia terdiam, lalu loncat-loncat kegirangan (?).

"Wookie~ah, dia mau menemuiku dan aku akan mengajaknya pergi nanti sore!"

"Joha! Lalu, kau akan mengajaknya kemana?"

"Aku akan mengajaknya ke bioskop. Gomapta atas bantuanmu."

"Ne, aku senang bisa membantumu."
Seketika ia melihat jam yang melingkar di tangannya, ia baru sadar bahwa ia sudah telat menjemput Yesung.

"Aku harus pergi sekarang! Semoga kencan kalian sukses. Annyeong!"

"Ne, annyeong. Gomapta!"

********************************************************************************

(Di tempat les Yesung....)

"Noona! Kau terlambat!" seru Yesung.

"Aku tahu. Mianhae, Yesung~ah. Aku tadi menemui Appa lagi. Akhirnya, Appa dan Eomma akan berkencan!"

"Kau tahu berapa lama aku menunggumu disini? Hhh~ les bahasa Jepangku akan dimulai sebentar lagi. Kajja! Kita pergi sekarang!"

"Mwo?! Tidak ada acara makan siang dulu apa?" tanya Wookie sambil memegangi perutnya.

"Hhh~ ini sudah pukul berapa?" dengus Yesung.
Wookie menginjak pedal sepedanya dengan loyo karena kelaparan. Akhirnya mereka berhenti di sebuah gedung, tempat les Yesung. Melihat tampang Wookie yang memelas, hati Yesung sedikit tergerak.

"Di dalam ada kantin. Kau bisa makan disana."

"Jinjja?" tanya Wookie penuh senyum lalu memarkirkan sepedanya dan berjalan ke arah kantin. Selama menunggu Yesung, wajah Wookie berseri-seri sambil memakan ramen yang ada di hadapannya. Misinya untuk menyatukan kedua orang tuanya telah berhasil dan tinggal melihat perkembangan selanjutnya saja.
Wookie bosan menunggu di kantin sendirian. Saat itu jam sudah menunjukan pukul dua lewat tiga belas menit, namun Yesung belum selesai juga. Tak lama lama kemudian, akhirnya Yesung muncul dari luar kantin. Wookie pun mengajaknya bergegas menuju sepedanya.

"Waeyo?" tanya Yesung.

"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Ppali! Kita akan ngebut!" jawab Wookie.

"MWO?? Arghhh!" teriak Yesung saat Wookie mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi.

"Noona, pelan-pelan!"

"Andwae!" Wookie ngotot. Rem sepeda mendecit. Tak juh dari tempat mereka berhenti, sebuah rumah besar bercat cokelat berdiri tegak.

"Jigeum, kita mau apa?" tanya Yesung seraya meredakan jantungnya yang berdegup kencang.

"Menunggu."

"Mwo? Apa yang kita tunggu?" tanya Yesung penasaran. Tiba-tiba suara sepeda motor mendekati area rumah itu.
"Igo!" tunjuk Wookie sambil tersenyum.

"Kita ada dimana?" tanya Yesung keras-keras.

"Sst! Jangan berisik!" bisik Wookie seraya membekap mulut Yesung.

*kasian amat Yesung oppa*

"Kalau begitu, jawab dulu pertanyaanku. Kita ada dimana?"

"Itu rumah Eommaku. Hari ini Appa akan mengajak Eomma kencan."

"Hhh~ lalu apa urusannya dengan kita?" Yesung menghela napas.

"Tentu saja ada. Aku ingin memastikan kencan mereka berjalan lancar. Ah lihat! Eommaku sudah keluar. Appa! Hwaiting!"
Terlihat di kejauhan sana Hangeng memberikan surat cinta di tangannya kepada Heenim dengan gugup.

"Untukmu," kata Hangeng perlahan. Heenim membaca surat itu dengan rasa ingin tahu.

"Omona! Ternyata selama ini, Hangeng.....Mengapa aku tidak mengetahuinya dari dulu?" batin Heenim.

"Bagaimana menurutmu? Apakah kau mau menerimaku?" ucap Hangeng yang memecahkan lamunan Heenim.

"Hhh~ kau tahu? Selama ini aku selalu mengganggapmu chingu. Tapiiii...."

"Tapi apa?"

"Setelah melihat isi suratmu, aku rasa aku ingin memberimu kesempatan."

"Jinjja?"

"Ne."

"Gomapta, Heenim. Kau pasti tidak akan menyesal."

"Aku harap begitu."

"Ne. Jadi, apa kau mau bila sekarang ku ajak ke bioskop?"

"Ne, tentu saja."

"Akhirnya setelah bertahun-tahun menunggu, aku bisa kencan dengan Heenim. Hari ini benar-benar hari paling indah semasa hidupku," pikir Hangeng. Wookie yang melihat Eommanya dibonceng Appanya langsung girang melebihi batas. (?)

"Omo! Berhasil! Appa berhasil kencan dengan Eomma. Horeee! Hahahahaa."

"Noona, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Yesung akhirnya.

"Ne, kajja kita pulang," jawab Wookie. Yesung pun menarik napas lega.

"Setelah itu, kita pergi ke bioskop," kata Wookie lagi.

"Mwoooo??" protes Yesung.

**************************************************************************

(Sore hari di bioskop.....)

"Apa Noona yakin memata-matai orang yang pacaran adalah ide yang bagus?" keluh Yesung, yang sedang duduk di samping Wookie di bangku bioskop.

"Hhh~ sebenarnya aku sangat malas menemaninya ke bioskop," gumam Yesung dalam hati. Mereka pun masuk ke dalam bioskop setelah menunggu sampai film telah diputar dan lampu-lampu dimatikan agar Yesung bisa masuk dengan mudah.

"Noona, aku mau pulang saja!"

"Sst! Jangan berisik ya. Aku hanya ingin memastikan bahwa kencan mereka lancar. Pasti mereka tidak akan keberatan," jelas Wookie sambil mengamati pasangan yang berada dua bangku di bawah mereka.

"Tentu saja mereka tidak akan keberatan. Mereka kan tidak tahu kalau Noona sedang mengawasi mereka."

"Sudahlah. Kau duduk manis saja dan nikmati filmnya. Aku masih punya tugas."
Yesung menggeleng dan duduk diam memandang layar bioskop. Pandangan Wookie tidak lepas dari kedua orang tuanya. Ia melihat Appanya menawarkan minuman kepada Eommanya. Dari atas, Wookie tersenyum. Setelah lima belas menit, tangan Hangeng mencoba merangkul pundak Heenim. Tiba-tiba Heenim menengok ke arah Hangeng dan Hangeng pun mengurungkan niatnya dengan pura-pura menguap.

"Yah! Appa payah!" bisik Wookie. Setelah menunggu setengah jam dengan mata tak kenal lelah mengamati kedua orang tuanya itu, akhirnya Wookie menyerah dan menyandarkan punggungnya ke bangku bioskop. Tak lama kemudian, tiba-tiba Wookie duduk tegak kembali.

"Tunggu....tunggu. Itu kan tangan Appa? Omo! Akhirnya Appa menggenggam tangan Eomma juga...hohoho," ucapnya dalam hati. Setelah senang melihat kedua orang tuanya sedang berpegangan tangan, barulah Wookie melihat ke arah layar bioskop. Ia baru sadar kalau film yang ia tonton adalah film horor. Ketika sang hantu berbaju putih dipenuhi darah memenuhi layar, Wookie menjerit keras sambil menggenggam tangan di sebelanya dengan erat. Spontan teriakannya itu membuat semua orang memandang ke arahnya, termasuk kedua orang tuanya.

"hhm...sampai kapan Noona akan menggenggam tanganku seperti ini?"

"Eh? Hehehe...mianhae," jawab Wookie nyengir. Sementara itu Yesung mengusap-usap tangannya yang tadi dicengkram oleh Wookie. Wookie pun kembali memantau kedua orang tuanya lagi tanpa merasa lelah. Tak berlangsung lama, Wookie akhirnya menyerah. Ia tertidur pulas di bangku bioskop.

"Mwo? Bisa-bisanya ia tertidur pulas, padahal tadi ia berteriak keras seperti orang gila," gumam Yesung. Ia pun melanjutkan menonton film bioskopnya.

*oppa juga gila tuh ngomong sendirian (?)*

(30 menit kemudian....)

Yesung menusukkan jarinya ke lengan Wookie.

"Noona, ireona!"

"Aigoo~ waeyo?"

"Hhh~ filmnya sudah selesai. Kajja! Kita pulang."

"Mwo? Sudah selesai? Lalu kemana orang tuaku? Bagaimana kencan mereka tadi? Apa mereka bertengkar?" tanya Wookie celingak-celinguk memandangi isi bioskop yang sudah kosong.

"Molla. Mungkin mereka sudah pulang. Dan aku tidak memperhatikan mereka. Kajja kita pulang saja."

"Padahal aku memperhatikan mereka.....hahahahaha," umpat Yesung.

"Aigo~ mengapa kau tidak mengawasi mereka."

"Hey! Ini kan tugas Noona bukan tugasku. Tapi Noona tertidur."

"A~ mianhae, Yesung~ah...hehehe."

"Udah salah, nyalahin orang pula, malah nyengir lagi...ckckck."

"kekeke...kajja! Kita pulang saja!"

"Ne."

***************************************************************************

(Di rumah....)

Setibanya mereka di rumah. Mereka memasuki kamarnya masing-masing. Merasa bosan di kamar, akhirnya Wonkie memutuskan untuk ke kamar Yesung.

'TOK! TOK!'

"Yesung~ah, kau tidak tidurkan?"

"Aniya~ masuk saja."

'KREKK!' Wookie pun membuka pintu kamar Yesung.

"Kau sedang apa?"

"Tidak sedang apa-apa. Kau mau apa?"

"Aniya~ aku hanya bosan sendirian di kamar. Makanya aku ke kamarmu."

"Oh."

"Hey! Yesung~ah, mainan apa ini?" ucap Wookie sambil menunjuk salah satu mainan di antara deretan mainan lainnya.

"Itu Yoyo."

"Mwo? Bagaimana cara memainkannya?" tanya Wookie seraya mencoba memainkan yoyo itu. Tiba-tiba.....
'PRAAAK!' Sebuah robot super junior jatuh dan rusak akibat tersenggol yoyo yang dimainkan Wookie.

"Omona! Mainanku!" teriak Yesung.

"Ye....Yesung....mianhae. Aku tidak sengaja."

"Keluar!"

"Tapi...."

"Aku bilang keluar!!"
Akhirnya Wookie keluar dari kamar Yesung. Wookie benar-benar merasa bersalah atas apa yang ia perbuat tadi. Semalaman Wookie tidak bisa tidur memikirkan kejadian itu.

"Pasti Yesung akan sangat marah sekali padaku. Hhh~ Aku ini jeongmal baboimnida, sudah tahu Yesung itu tidak suka kalau mainannya disentuh, sedangkan aku malah merusakan mainannya. ARRRGGH! BABO!"

'KRIK! KRIK! KRIK!' -------sunyi-------------

"Aha! Aku punya ide. Aku melakukan sesuatu untuk Yesung. Aku yakin, pasti dia akan memaafkanku."
Tiba-tiba terdengar suara dari lantai bawah. Wookie yang mendengar suara itu sangat jelas langsung menuju ke lantai bawah.

"Mwo? Tidak ada apapun disini. Lalu tadi suara apa?"
Dengan ketakutan, Wookie kembali ke lantai dua. Saat hendak melewati kamarnya, ia melihat kamar Yesung terbuka lebar.

"Shindong Imo?"

"Yesung~ah, mianhae. Jeongmal mianhaeyo. Aku tidak ada maksud untuk menjauhimu. Imo sangat menyayangimu. Tapi, setiap kali aku melihatmu, entah kenapa aku selalu ingat Eommamu yang sudah meninggal. Aku sangat terpukul dengan hal itu. Mianhae," jelas Shindong Imo sambil menitihkan air mata.

"Ternyata Shindong Imo sangat menyayangi keponakannya. Tetapi ia tidak pernah menunjukkan itu kepada Yesung."
Karena Wookie takut Shindong Imo melihatnya, ia pun bergegas menuju kamarnya lagi.

--tbc--

nah, bagaimana chingudeul, saengideul, eonnideul ff part 5 nya?? Tambah ngaco kah? (?)
Ditunggu ya RCLnya ^^
gomawo udah mau baca.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar