Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi
Summary : Di saat Wookie hendak mengantarkan Yesung ke tempat les musiknya, mereka berpapasan lagi dengan 'BumBOOM', tetapi mereka langsung pergi ketika Wookie menatap mereka dengan tatapan dingin. Seusai Wookie mengantarkan Yesung, ia langsung menuju ke kampus Appanya. Akhirnya Wookie memutuskan untuk membantu Appanya membuat surat cinta untuk Heenim.
Wookie terbangun dengan kepala pening. Ia bangkit dari tempat tidurnya.
"Mwo? Kenapa aku bisa ada di kamar Yesung? Bukan di kamarku?"
Wookie berjalan keluar kamar dan melihat Yesung sedang menonton TV.
"Yesung~ah, kenapa aku bisa tidur di kamarmu?"
"Noona ketiduran pas kita sedang menonton Super Junior. Kau sudah ku bangunkan, tapi tidurmu sangat pulas. Jadinya aku tidur di kamarmu."
"Oh begi....." ucapan Wookie terputus di saat ia melihat jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan.
"Yesung! Kau tidak les?"
"Hari ini aku les musik jam sepuluh," jawab Yesung.
"Oh iya, tapi bukankah hari ini hari libur? Kenapa kau harus les tiap hari?"
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Yesung.
"Hhh~ yasudah, aku mandi dulu. Nanti aku antar kau les," ucap Wookie meninggalkan Yesung dan berjalan ke kamar mandi. Seusai ia mandi dan mengenakan pakaian, ia langsung turun ke ruang makan untuk sarapan.
"Yesung~ah, Shhndong Imo masih belum bangun?"
"Seperti kdmarin Shindong Imo tidak pulang. A-yo, kalau kau sudah selesai, antar aku les!" Yesung berjalan keluar rumah, dan Wookie mengikutinya di belakang. Mereka berangkat dengan menggunakan bus. Ketika mereka hendak turun dari bus, mereka bertemu dengan segerombolan anak 'BumBOOM'. Wookie pun menatap mereka dengan tatapan dingin, lalu anak-anak itu menyingkir. Wookie dan Yesung melanjutkan perjalanan mereka hingga ke tempat les.
"Kau selesai jam berapa?" tanya Wookie ketika mereka tiba di tempat les.
"Jam dua belas."
"Baiklah, nanti akan ku jemput. Tapi aku harus pergi dulu menemui Appa. Annyeong," seru Wookie meninggalkan Yesung dan menuju ke kampus orang tuanya.
(Setibanya di kampus....)
"Appa! Hhm...Hangeng~ah!" panggil Wookie sambil melongok ke dalam kelas Appanya. Hangeng pun celingak-celinguk mencari sumber suara. Wookie tersenyum melihat Appanya, lalu melangkah maju mendekati meja Hangeng dan duduk di kursi sebelahnya.
"Masih ingat aku, kan?" tanya Wookie sambhl tersenyum manis.
"Ne, kau gadis yang aku selamatkan kemarin kan?"
"Ne, geurae!"
"Ada apa kau menemui ku?"
"Aku datang kesing untuk membantu App...hhm....maksudku, aku kesini untuk membantumu, Hangeng."
"Membantu apa?" tanya Hangeng sambil beringsut menjauh dari Wookie.
"Tentu saja membantumu mendekati Heenim. Kau menyukainya kan?"
"Bagaimana kau bisa tau?" lagi-lagi Hangeng beringsut menjauh.
*hangeng oppa, sebegitu menyeramkannya kah wookppa?*
"Itu tidak penting. Yang penting sekarang aku mau membantumu. Jadi, kita harus menemui Heenim, dan kau harus mengungkapkan perasaanmu padanya hari ini juga."
"Andwae~ aku...aku gugup kalau sudah bertemu dengannya," jawab Hangeng menggeleng ngeri.
"Nah! Maka dari itu, aku akan membantumu. Kau harus mengatasi rasa gugupmu. A-yo lah."
"Perasaan aku yang suka sama Heenim, kenapa jadi ini orang ya yang ribet," batin Hangeng.
"Pergilah! Aku tidak butuh bantuanmu. Hush...Hush," usir Hangeng yang kemudian kembali menulis sesuatu di sehelai kertas.
"Ternyata kau sedang menulis surat cinta ya," kata Wookie mengambil surat itu.
"Hey! Kembalikan!" teriak Hangeng panik.
"Ne, setelah aku baca baru aku kembalikan."
"Hey!"
"Hangeng~ah, aku sungguh ingin membantumu untuk mendapatkan Heenim. Jadi kau diam saja ya."
Wookie pun mulai membaca suratnya.
********************************************************************
Seusai Wookie membacanya, ia terheran-heran.
"Eoddeoke? Bagus tidak?" tanya Hangeng.
"Surat ini, hhm...terlalu berlebihan," jawab Wookie.
"Berlebihan? Aku sudah mencoba mengungkapkan semua isi hatiku lewat surat itu."
"Hhm...begini saja, aku akan buat surat cinta yg baru untukmu. Jadi, ceritakanlah kepadaku tentang Heenim. Eoddeokke? Kalau kau tidak suka, kau bisa memberi surat cinta yang kau tulis," jelas Wookie. Hangeng tampak berpikir.
"Hhm...aku menyukainya sejak sepuluh tahun yang lalu ketika kami masih SD. Menurutku ia yeoja paling cantik di sekolah. Sampai sekarang pun dia masih yeoja paling cantik yang pernah aku temui. Aku suka senyumnya, tatapannya, semuanya. Aku tak pernah merasa bosan untuk memandangnya. Kau tahu? Ketika kau menchntai seseorang, kau ingin menghabiskan sisa hidupmu dengannya," cerita Hangeng yang menyunggingkan senyumannya ketika mengingat kenangan manis masa kecilnya dulu. Wookhe terpana. Ia tahu orang tuanya saling mencintai. Mendengar perasaan Appanya langsung dari mulutnya sendiri, membuat Wookie tersentuh.
"Itulah yang bisa aku ceritakan," lanjut Appanya lagi.
"Gwaenchana. Arraseo. Kau benar-benar mencintainya," jawab Wookie. Tiba-tiba dari luar terdengar bunyi mesin motor dan decitan rem disusul suara teriakan.
"Heenim~ah, tunggu!"
Hangeng dan Wookie langsung keluar dari kelas dan mereka melihat Heenim sedang berjalan menjauhi namja yang mengendarai sepeda motor, Donghae.
"Aku tidak mau melihatmu lagi, Donghae! Pergi!!"
"HEENIM!" teriak Donghae ngotot.
"KITA PUTUSSS!!" teriak Heenim keras-keras. Donghae memegang tangan Heenim. Tetapi Heenim mencoba melepaskan genggaman tangan itu.
"Lepaskan! Jangan pernah sentuh aku lagi!" teriak Heenim lagi. Wookie melihat Eommanya berjalan menuju kelasnya tanpa menghiraukan Donghae. Tak lama kemudian, Donghae pergi.
"Yeah! Mereka putus! Ini kesempatanmu, Hangeng. Sekarang kau bisa menemuinya dan menyatakan perasaanmu padanya," Wookie tersenyum sambil meloncat-loncat dan menepuk punggung Appanya itu.
"Aku rasa tidak semudah itu, Heenim sedang terluka."
"Apa kau tidak ingin menghiburnya?"
"Tentu mau, tapi tidak sekarang. Saat ini dia pasti berpikir semua namja adalah makhluk yang harus dihindari. Mungkin besok aku akan berbicara dengannya. Sekarang aku harus kembali ke kelas. Jam kuliahku akan segera dimulai."
"Aku akan membuatkan surat cinta yang hebat. Besok aku akan membawanya. Aku yakin Heenim pasti akan menerima kencanmu," ucap Wookie antusias. Hangeng hanya tersenyum lalu masuk ke kelasnya. Sedangkan Wookie berjalan ke depan gerbang untuk menunggu bus arah tempat les musik Yesung.
(Di tempat les musik Yesung....)
Wookie berdiri di depan tempat les musik Yesung sambil mengetuk-ketukan kakinya di lantai. Pikirannya penuh dengan kata-kata yang akan ia rangkai di surat cinta Hangeng. Yesung melihat Wookie yang tampak sedang berpikir keras hingga tidak menyadari kehadirannya.
"Noona sedang memikirkan apa sih?"
"Hey! Kau sudah selesai les ya?"
"Ne, aku lapar. Kajja kita cari makan!"
Wookie menyetujuinya dan menuju rumah makan ramen yang tak jauh dari tempat les Yesung.
"Tadi, aku bertemu Appa lagi, dan aku akan membantunya membuat surat cinta," kata Wookie di tengah makan siang mereka. Yesung pun tidak mengubrisnya, ia tetap melanjutkan makannya.
"Yesung~ah? Kau mendengarkanku, kan?" tanya Wookie kesal. Yesung menarik napas dan meletakan sumpitnya.
"Ne. Aku rasa surat cinta terlalu aneh bila ditulis orang lain. Bukankah seharusnya Appamu saja yang membuat surat cintanya sendiri?"
"Appa sudah buat. Tapi buatannya terlalu picisan. Oleh karena itu aku akan membantu membuatkannya."
Tetapi tidak ada tanggapan dari Yesung.
"Jadi, eoddeokke?" tanya Wookie.
"Aku tidak mau ikut campur."
"Ini anak...Hhh~" batin Wookie.
"Kalau Noona sudah selesai, sebaiknya kita pergi sekarang. Aku masih ada les," kata Yesung beranjak dari duduknya. Wookie membayar makanan itu di kasir, lalu mengikuti Yesung.
"Hey, tunggu. Kau ada les apa lagi?"
"Taekwondo," jawab Yesung singkat. Mereka naik bus ke tempat les Taekwondo. Sepanjang jalan, Wookie tak habis pikir kalau Yesung bisa taekwondo.
"Yesung~ah, kau sudah belajar taekwondo berapa lama?"
"Dua tahun."
"Jinjja? Tapi, kenapa kau tidak melawan saja kelompok 'BumBOOM' yang sudah mengganggumu waktu itu?"
"Untuk apa aku melawan mereka?"
"Jadi, kau membiarkan dirimu dipukuli oleh mereka?"
"Mereka berlima, dan aku hanya sendiri. Walaupun aku bisa mengalahkan salah satu dari mereka, yang lain pasti akan bergegas memukulku juga. Jadi, tidak ada bedanya."
"Hhh~ tidakkah kegiatan lesmu ini terlalu banyak? Kau kan masih kecil."
"Kata Eomma, selagi masih muda kita harus mencoba semuanya. Eomma ingin aku mencoba semuanya dan menemukan satu kegiatan yang paling aku sukai."
"Kalau begitu, mengapa kau tidak konsentrasi di satu kegiatan yang paling kau sukai saja?"
"Hhh~ sampai sekarang aku belum menemukan kegiatan yang paling ku sukai. Kajja! Kita sudah sampai," seru Yesung seraya berjalan turun dari bus. Wookie mengikutinya dari belakang. Setelah dua jam menunggu di dalam, Wookie pergi keluar tempat les. Wookie melihat di seberang jalan terdapat sebuah toko cokelat. Ia pun menghampiri toko itu.
"Ahjussi, cokelat yang itu berapa harganya?" tanya Wookie sambil menunjuk sebuah cokelat berbentuk member Super Junior.
"Cokelat yang itu harganya 50 won."
"Waw! Murah. Saya mau yang ini, 13 buah."
"Ne, ini!"
"Gamsahamnida, ahjussi."
"Ne, cheonmaneyo."
Dari dalam ruangan latihan Taekwondn, Yesung menatap Wookie yang sedang memakan cokelat di bangku depan toko itu. Yesung pun tertawa kecil melihat kelakuan Wookie.
"Kau tau? Ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa," ucap seorang namja di belakang Yesung. Yesung pun berbalik.
"Seonsaengnim?"
"Ne. Chukae, Yesung. Hari ini kau telah berhasil memperoleh sabuk kuning," ucap Seonsaengnya tersenyum sambil memberikan sabuk kuning kepada Yesung.
"Gamsahamnida, Seonsaengnim," kata Wiliam membungkuk memberi hormat. Diterimanya sabuk itu dengan bangga, lalu ia melihat ke arah Wookie lagi.
"Dia Noona mu?"
"Anio. Dia hanya yeoja yg rakus."
Seonsaengnya hanya tersenyum mendengar penjelasan Yesung.
"Sering-seringlah tertawa, Yesung."
"Hhm...saya pulang dulu, ya, Seonsaengnim. Annyeong haseyo."
"Ne,annyeong."
Saat keluar dari ruang latihan, Yesung melihat Wookie masih mengunyah cokelat. Wookie pun menatap Yesung.
"Yesung~ah, kau mau?"
"Anio. Noona makan berapa batang cokelat?"
"Satu...dua...tiga...empat...lima, hhm...13. Hehehe."
"Mwo? Coklat bisa membuatmu sakit gigi."
"Arraseo. Tapi itu tetap saja tidak mencegahku untuk memakannya. A~masitta."
"Hhh~ kajja! Kita pulang," seru Yesung.
*********************************************************************
(Di rumah....)
Wookie meremas kertas itu menjadi gumpalan bola dan melemparnya ke keranjang sampah.
"Hhh~ sulit sekali merangkai kata-katanya," desah Wookie frustasi. Dia melihat sebuah radio di depan meja lalu menghidupkannya untuk mendengarkan siaran radio.
"Mwo? Hanya ada satu siaran?" ucap Wookie kesal sambil mencari saluran lain. Wookie keluar kamar dan masuk ke kamar Yesung.
"Yesung~ah!"
"Ketuk pintu dulu sebelum masuk."
"Ups, mianhae. Kenapa radionya hanya ada satu saluran saja?"
"Memang hanya ada satu. KBS World FM."
"Di masaku radio punya beberapa saluran. Yasudahlah," ucap Wookie kesal. Saat ia hendak beranjak dari kamar Yesung, pandangannya tertuju pada lemari mainan di sebelah pintu. Ada berpuluh-puluh mainan mobil, robot, motor, dan lain-lain.
"Wow! Mainanmu banyak sekali!" seru Wookie.
"Yesung~ah, aku boleh minta kelereng yang ini?"
"Anio!" sahut Yesung mengambil kelereng itu dari tangan Wookie.
"Ayolah. Kau kan masih punya ratusan kelereng yg lain."
"Anio!"
"Hhh~ dasar pelit!"
"Noona nonton TV saja sana! Jangan ganggu aku!"
Wookie pun memutuskan untuk tidur siang saja.
"Hhh~ lebih baik aku tidur saja dah. Hoaam!"
*************************************************************************
(Malam hari, di sebuah diskotek...)
Entah sudah berapa lama Shindong menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik tetapi tetap saja perasaan kehilangan di hatinya tidak kunjung hilang. Ia berhenti menari dan memesan minuman alkohol. Shindong meneguk isinya hingga habis.
*gelasnya gak dimakan jg kan oppa?(?)*
Kenangannya kembali pada tahun-tahun di masa kecilnya.
"Mengapa ini semua harus terjadi? Pertama orang tuaku, lalu Noona ku. Mengapa mereka harus pergi dari sisiku?" teriaknya dalam hati. Ia tidak bisa menyalakan siapa-siapa. Kini, Shindong tidak sanggup menatap wajah keponakannya, Yesung, yang wajahnya benar-benar mirip Eonninya. Oleh karena itu, Shindong selalu berusaha menghindarinya sedapat mungkin. Pelariannya adalah minuman yang saat ini digenggamnya.
"Eonni....," katanya perlahan sambil menjatuhkan wajahnya ke meja dan menangis.
"Waeyo? Waeyo kau peri meninggalkanku? Aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengasuh anak. Eonniii...."
"Hey. Gwaenchanayo?" tanya bartender di depannya. Shindong seakan tersadar dan bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar diskotek. Hari sudah tengah malam. Shindong memutuskan untuk naik taksi menuju rumahnya.
(Satu jam kemudian....)
Shindong sampai di rumah dalam keadaan sempoyongan. Ia segera masuk ke rumah. Dilihatnya Wookie dan Yesung menatapnya dengan bingung. Perasaan sedih muncul kembali saat menatap Yesung lalu ia terkulai di sofa.
"Yesung~ah, apa Shindong Imo baik-baik saja?" tanya Wookie.
"Ne, dia hanya tertidur," kata Yesung. Wookie menyuruh Yesung membantunya mengangkat Shindong Imo dan membaringkannya di kamarnya. Setelah itu, Wookie tersadar bahwa dia belum menyelesaikan menulis surat cintanya.
"Aigo, aku kelupaan! Aku kan harus membuat surat cinta untuk Appa!" seru Wookie panik. Wookie berlari ke kamarnya dan menutup pintunya. Kali ini Wookie benar-benar serius merangkai kata-kata untuk surat cintanya.
"Ayolah, Wookie. Kau bisa melakukannya! Hwaiting!" katanya pada dirinya sendiri. Wookie menarik napas dan mulai menulis. Tak lama kemudian surat itu selesai. Ia tersenyum lega dan menjatuhkan dirinya ke ranjang untuk tidur.
(Di kamar Yesung...)
Yesung bergerak-gerak gelisah di dalam tidurnya. Ia bermimpi bertemu Appa dan Eommanya menjauh dari Yesung.
"Anio! Eomma! Appa! Jangan pergi! Aniya!" ucap Yestng terengah-engah.
"Eomma...Appa....Anio!!!" Yesung terbangun dari mimpinya dengan tubuh berkeringat. Jantungnya berdegup kencang.
"Hhh~ ternyata cuma mimpi," ucapnya dalam hati. Ia berjalan keluar kamar untuk mengambil minum, lalu tatapannya beralih ke kamar Wookie. Ia berjalan mendekatinya, kemudian mengetuk pintunya.
"Noona, apa kau sudah tidur?" ucapnya perlahan. Tidak mendapat jawaban dari Wookie, Yesung membuka pintunya perlahan dan masuk ke kamar Wookie. Dilihatnya Wookie tidur tertelungkup. Saat hendak Yesung keluar kamar, kakinya tidak sengaja menyentuh kaki meja dan menjatuhkan sehelai kertas. Ia pun mengambil kertas itu. Baru membaca kalimat pertama, ia dikejutkan oleh suara di belakangnya. Jantung Yesung seperti berhenti, ia pun menjatuhkan surat yang dipegangnya. Ternyata Wookie bergerak dalam tidurnya.
"Nyam...nyam...nyam."
"Mwo? Dasar Noona. Di alam mimpi pun yang terpikir hanya makanan."
Yesung kembali membaca surat tersebut. Seusai membacanya, ia memandang Wookie yang sedang tidur selama beberapa lama, meletakkan surat itu kembali ke tempatnya, dan mematikan lampu kamar.
-tbc-
nah nah nah, gomawo bagi yang udah mau membaca ff ku yang tidak berguna ini. Bagi yang masih suka, silahkan tunggu part selanjutnya. Bagi yang gak suka, ya gak usah dibaca tapi pura-pura suka ^^
*langsung dimutilasi*
#dasar author sarap#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar