Annyeong! Aku balik lagi bawa ff ketiga ku ^^
*gak ada yg ngarepin*
langsung aja ya, check it out! (?)
Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi
Summary : Wookie kesal sekali ketika harus ikut appanya ke Gedung SME. Itu artinya dia akan bertemu dengan Kyuhyun, mantan namjachingunya dan itu berarti ia juga akan bertemu Minnie, musuh bebuyutannya yang telah merebut Kyuhyun. Merasa frustasi oleh situasi, tak sadar Marissa menangis di depan sebuah lukisan, dan bergumam seandainya saja ia bisa menghilang. Wookie pun berada di tahun 1990, tepatnya 29 Juni 1990.
Wookie memandang jalanan dari kaca jendela mobil tanpa antusias. Hari ini Eomma dan Appa mengajaknya pergi ke pesta, padahal dia lebih suka ada di rumah. Mobil Appa memasuki sebuah gedung, dan tak berapa lama kemudian berhenti.
"Kau tidak mau turun?" tanya Appa. "Kita sudah sampai."
"Bisakah aku pulang saja?" tanya Wookie setengah memohon.
Eomma langsung berkata kesal, "Wookie~ah, kita sudah membicarakan hal ini di rumah. Acara ini penting untuk Appamu."
Appa menyentuh pundak Marissa.
"Appa tahu kau tidak ingin ada di sini. Kau tidak ingin bertemu mereka. Tetapi, mengurung diri di kamar tidak akan memperbaiki keadaan."
Alasan utama Wookie tidak mau menghadiri pesta ini karena dia tidak ingin bertemu dengan Kyuhyun dan Minnie. Satu bulan yang lalu, Kyuhyun memutuskan dirimya. Wookie tidak habis pikir mengapa Kyuhyun tega melakukannya. Rasa sakit hati Wookie semakin parah ketika Kyuhyun lebih memilih Minnie, musuh bebuyutannya.
Pandangan Wookie beralih pada sebuah karangan bunga di depan gedung yang bertuliskan 'Selamat atas dua puluh tahun berdirinya Gedung SME.'
"Wookie~ah, ayo masuk!" ucap Eomma seraya melangkahkan kakinya memasuki lift.
Di lantai ketiga pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan berjalan menuju hall. Wookie menatap Kyuhyun dan Minnie tak jauh di depannya.
"Hhh~ Minnie sengaja datang lebih awal untuk menghinaku. Aku benar-benar benci dia," ucap Wookie pelan.
"Eomma, aku mau ke toilet dulu," katanya kemudian. Setengah berlari, Wookie meninggalkan tempat itu dan masuk ke toilet.
"Aku benar-benar beci mereka!" bisiknya sambil menangis.
"Appa, aku tidak sekuat yang kau bayangkan. Aku harus pergi," batinnya.
Dengan tekad bulat, Wookie keluar dari toilet dan berjalan ke arah tangga di hadapannya. Dilihatnya jam dinding besar di aula gedung menunjukan pukul enam sore. Pandangannya lalu tertuju pada lukisan dekat tangga kemudian ia berjalan menghampirinya. Dia membaca keterangan di bawahnya.
Judul Lukisan : Menembus waktu
Tahun dibuat : Diperkirakan sekitar abad 17-19
Pelukis : Tidak diketahui
Keterangan : Konon, lukisan ini bisa mengabulkan permohonan.
"Mengabulkan permohonan?" Wookie tertawa pendek. Merasa frustasi oleh situasi, tak sadar Wookie menangis di depan lukisan itu.
"Aku benci Kyuhyun dan Minnie! Aku benci semuanya! Aku harap tempat ini ditutup saja sehingga aku tidak perlu menghadiri tempat ini, dan bertemu dengan orang-orang yang menyakiti hatiku!"
Wookie membalikkan badannya dan melangkah menuruni tangga. Tiba-tiba seluruh ruangan bergetar hebat.
"Omo! Waegeurae?!" Wookie panik lalu terjatuh. Secara refleks diangkatnya tangannya untuk melindungi kepala kemudian dia menutup matanya.
Entah berapa lama Wookie tertelungkup. Lantai gedung sudah tidak bergetar lagi. Di saat ia membuka matanya, seluruh gedung gelap gulita.
"Annyeong! Ada orang di sini" teriaknya dengan ragu.
"Eomma! Appa! Kalian ada di dalam?" Wookie membuka pintu ruang acara.
"Dimana semua orang?! Apa mereka sudah di luar gedung?" hatinya bertanya-tanya. Ia pun memutuskan keluar dari gedung, ia menuruni tangga. Tiba-tiba ada cahaya senter di kejauhan mendekati Wookie. Suara anjing menggonggong mengikuti arah cahaya senter itu. Wookie ketakutan. Tanpa pikir panjang, Wookie lari sekencang-kencangnya menuju pintu yang terbuat dari kawat dan membukanya. Seketika tatapan Marissa tertuju pada papan putih di depannya, dengan tulisan besar.
GEDUNG SME AKAN DIBUKA TANGGAL 6 JULI 1990
"Mwo? Waegeurae? Apa ini hanya lelucon?" kening Wookie berkerut dan tubuhnya merinding.
"Lebih baik aku pulang ke rumah," batin Wookie.
************************************************************************
Sepanjang jalan yang dilaluinya, Wookie kebingungan. Semua yang dilihat tidak seperti biasanya. Wookie berjalan menyusuri jalan utama, lalu berbelok menuju jalan ke rumahnya. Ia terus meneruskan langkahnya. Tak berapa lama kemudian ia sampai di depan rumah. Hatinya lega. Disaat ia mencoba memencet bel, namun bel itu tidak ada di tempatnya dan gerbang pun terkunci. Wookie semakin bingung. Ia akhirnya berjalan memutar ke samping rumah dan menemukan lubang yang tersembunyi di balik pepohonan. Ia pun memasuki rumah lewat sebuah lubang itu. Gaun yang masih dipakainya pun langsung kotor berlepotan tanah. Wookie memandang rumahnya.
"Rasanya ada yang beda."
Tiba-tiba terdengar suara anjing besar menggonggong dari dalam rumah.
"Omo!! Masa aku harus berurusan dengan anjing galak untuk kedua kalinya?" keluh Wookie.
"Siapa di luar?!" teriak sang penghuni rumah yang tak lain adalah harabeojinya Wookie.
"Omona! Itu kan suara harabeoji?"
"Papi! Sepertinya ada maling di depan rumah kita!" teriak seorang yeoja yang tak lain adalah halmeoninya Wookie.
"Mwo! Aku disangka maling sama halmeoniku sendiri?" batin Wookie. Ia pun semakin panik.
"Mami diam saja di rumah! Mana pemukul bola? Sini...berikan pada Papi!" ucap harabeoji Wookie.
"Gaswat! Aku harus...kaaburr!" Wookie berlari ke arah lubang tadi. Setelah itu ia berlari sekencang-kencangnya.
(Sejam kemudian....)
"Hosh! Hosh! Kenapa semua nampak berbeda?" ucap Wookie terengah-engah. Matanya kemudian melihat sosok anak namja sedang berdiri di tengah jalan. Tak jauh, sebuah mobil melaju kencang menuju anak itu.
"Hey, kau! Awas ada mobil!" Wookie pun berlari dan berteriak. Dengan sekuat tenaga, Wookie pun menarik ke luar anak itu dari jalanan. Keduanya jatuh di seberang jalan. Wookie terengah-engah.
"Lepaskan!" teriak anak itu.
"Gwaenchanayo?" Wookie melepaskannya dan menatap anak itu. Lalu mereka berdua berdiri.
"Hey, Anak kecil. Gwaenchanayo?"
Anak itu tidak menjawab, bahkan dia malah pergi meninggalkan Wookie.
"Dasar anak tidak tahu terima kasih," ucap Wookie kesal setengah hidup (?)
"Hey! Tunggu!" teriak Marissa lalu menyentuh pundak anak kecil itu.
"Jangan sentuh aku!"
"Hhh~ arasseo. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Tidak ada yang terluka, kan?"
Tetapi anak itu tidak menjawab dan berjalan lagi. Wookie mengikuti anak itu.
"Naneun Wookie imnida. Kau punya nama kan?"
"Aku dilarang memberitahu namaku kepada kepada orang yang tidak dikenal."
"Aku ini kan yang menyelamatkan hidupmu."
"Aku tidak memintamu kan?"
"Kau ini....Grrr! Apa kau tidak diajari sopan santun oleh orang tuamu?"
"Orang tuaku sudah meninggal!" katanya ketus.
"Mianhaeyo. Aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin mengetahui apa kau baik-baik saja."
"Mwo? Dicuekin?" batin Wookie.
"Hei, aku tahu kau marah padaku. Tapi, bolehkah aku singgah sebentar di rumahmu? Aku sangat haus," tanya Wookie dengan manis.
"Rumahku bukan tempat orang terlantar."
"Kau harus mengizinkanku! Kau kan berutang padaku!"
"Anio!"
"Aku mohon..."
"Anio!"
Wookie tertunduk menyerah. Ia berjalan ke depan gerbang dan duduk disana. Air matanya keluar dan ia menangis heran. Anak itu memandang yeoja di depannya tanpa bersuara. Dia lalu berjalan mendekati yeoja itu.
"Kau boleh tinggal di rumahku."
"Jinjja? Aku akan melakukan apapun."
"Kau bisa masak?"
"Anio~"
"Dasar tidak berguna! Aku pikir kau bisa membantu koki Kangin untuk memasak makanan enak."
"Aku bisa belajar memasak. Tolong bantu aku!"
--tbc--
yang baca, jangan lupa tinggalkan jejaknya ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar