Senin, 28 Februari 2011

FF YeWook // KyuMin :: Seven Days in The Past (Part. 2)

Genre : Family, Romance
Cast :
-Kim Ryeowook as Wookie (yeoja)
-Kim Jong Woon as Yesung (namja)
-Lee Sungmin as Minnie (yeoja)
-Cho Kyuhyun as Kyuhyun (namja)
-Han Kyung as Hangeng (Appa from Wookie)
-Kim Heechul as Heenim (Eomma from Wookie
-Shin Dong-hee as Shindong (Imo from Yesung)
-Kim Young Woon as Kangin (Koki di rumah Yesung)
-Lee Hyuk Jae as Halmeoni (Mami from Hangeng)
-Choi Siwon as Harabeoji (Papi from Hangeng)
-Kim Kibum as Kibum (Leader 'BumBOOM')
-Lee Donghae as Donghae (namja)
-Park Jeong Soo as Leeteuk Ahjussi

Summary : Wookie tercengang karena ia benar-benar berada di masa lalu. Ketika ia hendak pergi ke Gedung SME, ada sekelompok anak nakal bernama 'BumBOOM' yg diketuai seorang anak bernama Kibum mengganggu Yesung.Setelah menyingkirkan 'BumBOOM', Wookie pun pergi mengantarkan Yesung lalu menuju ke Gedung SME. Karena ia tidak menemukan apapun di sana, ia pun pergi ke kampus kedua orang tuanya.

Yesung berpikir panjang dan akhirnya mengiyakan untuk menerima Wookie singgah di rumahnya. Wookie tersenyum lega dan memeluk anak itu.

"Jangan peluk aku!" katanya kesal.

"A~ mianhae. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Anak itu membuka pintu gerbang rumahnya dan Wookie mengikutinya dari belakang.

"Yesung-ssi, kau baru pulang?" tanya seorang namja.

"Ne, Koki Kangin. Shindong Imo ada di rumah?"

"Ne, tapi sepertinya mau pergi lagi."

"Kajja! Ikut aku," ajak Yesung pada Wookie.

"Yesung~ah, kau sudah pulang? Siapa itu?" tanya Shindong Imo menunjuk kepada Wookie.

"Ini Wookie, dia anak chingu Eomma dari Incheon. Dia akan tinggal disini selama liburan, Imo."
Wookie terkejut dan merasa heran mendengar perkataan Yesung.

"Kotor sekali!" seru Shindong Imo yang memandang Wookie dari atas sampai bawah.

"Dia kan dari kampung, Imo. Apa yang bisa Imo harapkan?"

"Ne, baiklah. Terserah. Wookie~ah, kau tempati saja kamur tamu," kata Shindong Imo kehilangan minat.

"Yesung~ah, Imo pergi dulu ya. Jangan nakal."
Shindong Imo berkalu darh hadapam Yesung. Tak lama kemudian, suara mobil dari halaman depan terdengar, menandakan kepergian Shindong Imo.

"Koki Kangin!" teriak Yesung.

"Ne, waeyo, Yesung-ssi?"

"Koki Kangin, ini Wookie, anak chingu Eomma dari Incheon."

"Annyeong hasimnika, Koki Kangin," ucap Wookie sambil membungkuk.

"Annyeong hasimnika, Wookie-ssi."

"Koki Kangin, sepertinya Wookie kelaparan. Tolong buatkan makanan ya."

"Ne, Yesung-ssi," jawab Koki Kangin sambil berlalu ke dapur.

**************************************************************************

Tak lama kemudian, Koki Kangin datang membawa makanan. Wookie langsung mengambil makanan itu. Yesung hanya memperhatikan Wookie. Tetapi Wookie makan dengan lahap sehingga tidak memedulikan tatapan Yesung.

"Noona rakus sekali," komentar Yesung.

"Aku memang makannya banyak."
Setelah Wookie merasa kenyang, Yesung mengajaknya ke kamar tamu.

"Noona bisa tidur di kamar ini," kata Yesung.

"Gomapta."

(Malam harinya...)

"Yesung~ah, hari ini tanggal berapa?"

"Hari ini tanggal 29 Juni 1990."

"Mwo?! 29 Juni 1990?! Yg benar saja! Tidak mungkin!" teriak Wookie. Yesung memandang Wookie dengan penasaran.

"Terakhir kali aku ada di tahun 2010. Tepatnya tanggal 6 Juli 2010."

"Noona, kau ini bicara apa sih?" tanya Yesung bingung.

"Tidakkah kau mengerti, Yesung? Aku terlempar ke masa lalu, dua puluh tahun dari masa tempatku berasal."

"Tidak ada yang namanya perjalanan waktu."

"Ada. Aku adalah manusia masa depan. Bahkan aku belum lahir di tahun ini."

"Hhh~ aku rasa Noona perlu istirahat."

"Tunggu, aku bisa membuktikan bahwa aku berasal dari tahun 2010."

"O~ne?"

"Ne, di masa depan, mobil yang diparkir di halaman rumahmu sudah menjadi barang langka karena mobil di masaku lebih canggih."

"Noona akam mengatakan bahwa mobilnya bisa terbang?"

"Anio~"

"Lalu, apa bedanya dengan mobil tahun ini?"

"Modelnya beda! Di masaku juga ada internet, iPod...."

"Mwo? Ai Pot? Pot bunga?"

"A~ani. iPod tuh semacam alat untuk mendengarkan lagu, kita bisa membawanya ke mana-mana. Bentuknya ringan dan kecil."

"Noona bisa saja mengarang hal-hal itu....hahaha."

"Tunggu, di masa depan ada yang namanya komputer."
Yesumg mengajak Wookie ke ruang tamu. Di sana dia membuka kain yang menutupi sebuah benda.

"Jigeum, aku juga punya komputer. Ini yang paling canggih, sudah ada empat warna."

"Ne, memang. Tapi komputer di masaku sudah punya jutaan warna."

"Itu kan hanya kata Noona."

"Aigo!" Wookie menepuk kepalanya sebagai tanda frustasi.

"Mengaku saja. Noona kabur dari rumah kan?"

"Anio!"
Tiba-tiba pandangan Wookie tertuju pada televisi di depannya.

"Kau lihat ini? Televisi di masaku, gambarnya sudah berwarna, tidak hitam putih lagi."

"Wow! Sepertinya Noona memang datang dari masa depan," seru Yesung sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Nah kan! Apa kataku," Wookie pun tersenyum lebar. Yesung berjalan mendekati TV dan menghidupkannya.

"Lihat! Kami sudah punya TV berwarna dari kapan tau."

"Arghh sial! Aku dipermalukan oleh anak kecil."

"Hoam! Aku capek. Lebih baik Noona juga istirahat. Siapa tahu besok pikiran Noona sudah kembali normal."

"Anak itu benar-benar menyebalkan," batin Wookie. Wookie cemberut melihat Yesung masuk ke kamarnya tanpa memperhatikan Wookie lagi. Wookie terus berusaha memikirkan semua kejadian yg dianggapnya tidak masuk akal.

"Ini semua pasti hanya mimpi. Besok pagi saat aku terbangun, semuanya akan kembali seperti semula," ucap Wookie yang meringkuk di atas tempat tidurnya. Lalu Wookie pun memejamkan matanya untuk tidur.

*******************************************************************************

Suara ayam berkokok membangunkan Wookie.

"Hoaam! Berisik banget sih. Sejak kapan Appa pelihara ayam di rumah?" ucap Wookie setengah sadar.

"Tunggu dulu....ayam??" ia pun langsung membuka matanya, lalu melihat kalender di depannya.

"Mwo? Masih tahun 1990? Jadi...jadi aku benar-benar terlempar ke masa lalu?" ucapnya kesal. Ia langsung beranjak dari tidurnya. Ia baru sadar saat melihat cermin di depannya, ternyata dirinya masih mengenakan gaunnya yang belepotan tanah. Wookie pun membuka pintu kamarnya dan menuju ke kamar Yesung.

'TOK! TOK!'

"Yesung~ah, kau sudah bangun?"

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

"Waeyo?" tanya Yesung tanpa ekspresi.

"Hhm, begini....apa kau punya baju ganti untukku? Kau lihat baju ku kan? Baju ini sudah tak layak pakai."

"Ne, kajja! Ikut aku."
Mereka berjalan menuju kamar di lantai dua. Mereka masuk ke kamar itu dan membuka lemari pakaian yang ada di dalamnya.

"Piih saja sendiri. Dulu ini adalah baju-baju Eomma."

"Kau tidak keberatan aku memakai baju Eomma mu?"

"Gwaenchana. Jangan dikotorin."

"Hhh~ pakaiannya tidak modis. Tapi apa boleh buat," batin Wookie. Setelah selesai memilih pakaian untuk ia kenakan, kemudian ia mandi dan mengenakan pakaian tersebut.

"Benar-benar tidak pantas denganku," ucap Wookie sambil menata tatanan bajunya. Wookie mencoba memakai sepatu hak tingginya, namun ternyata kakinya masih lecet. Ia masuk ke kamar orang tua Yesung lagi dan mencari-cari sepatu.

"Nah ini dia. Tak apalah kebesaran dikit. Yang penting kaki ku tak lecet lagi."
Kemudian Wookie pergi ke ruang makan beberapa saat kemudian.

"Joheun achim, Koki Kangin," sapa Wookie.

"Ne, Joheun achim, Wookie~ssi," sahut Koki Kangin.

"Yesung dan Shindong Imo mana?"

"Yesung-ssi sudah pergi les. Kalau Shindong Imo belum bangun. Apa kau ingin makan duluan?"

"Ne," jawab Wookie singkat karna sudah kelaparan. Ia langsung melahap sashimi yang ada di piring miliknya dan meneguk segelas susu.

"Nyam...nyam. Kenyang. Koki Kangin...."

"Ne, waeyo Wookie-ssi?"

"Apa keluarga Yesung punya mobil lagi yang bisa saya pakai?"

"Anio~ cuma Shindong-ssi yang punya mobil. Tapi, ada sepeda milik Appa Yesung-ssi di depan."
Wookie bergegas menuju depan rumah. Sebuah sepeda tersandar di tembok tak jauh dari pintu gerbang. Wookie mengambil sepeda itu dan mencoba mengendarainya. Di kejauhan, Wookie melihat Yesung yang dikerumuni oleh sekelompok anak seumurannya, yang biasa disebut dengan 'BumBOOM'. Salah satu anak mengambil tas Wiliam dan sang leader, Kibum, merenggut pakaian Yesung.

"Hey! Lepaskan dia," refleks Wookie pun teriak pada sekelompok anak-anak itu. Semua anak dari kelompok 'BumBOOM' itu langsung bubar. Wookie turun dari sepeda dan mendekati Yesung.

"Gwaenchanayo?"

"Ne, gwaenchana."

"Apakah mereka memukulmu?"

"Anio~ kelompok 'BumBOOM' itu hanya menginginkan uang jajanku."

"Syukurlah, kau tidak diapa-apakan mereka. Yesung~ah, kajja. Aku antar ke tempat les," ajak Wookie. Seketika pandangan Wookie tertuju pada lebam-lebam di lengan Yesung.

"Omona! Tanganmu! Aku akan memberi mereka pelajaran!" Wookie hendak mengejar 'BumBOOM' itu, namun Yesung menarik bajunya dan menghentikannya.

"Biarkan saja. Kajja! Aku tidak mau telat ke tempat lesku."

"Ne, aku akam menemanimu les setiap hari. Kau tidak perlu khawatir lagi pada mereka, Yesung saeng."

"Noona tidak perlu melakukannya."

"Sudahlah. Setidaknya aku bisa membalas kebaikanmu karena aku telah menumpang di rumahmu. Kajja, aku bonceng," jelas Wookie. Dengan ragu Yesung naik ke boncengan sepeda. Yesung memberitahu arah ke tempat lesnya, dan Wookie terus mengayuh sepedanya dengan cepat. Setibanya di tempat les, Yesung turun dari sepeda.

"Aku akan menjemputmu lagi. Jam berapa kau selesai les?"

"Jam 12."

"Aku akan tiba disini pukul dua belas. Yesung~ah, sebenarnya aku sungkan memintanya darimu. Tapi, bolehkah aku minta uang? Siapa tahu aku butuh untuk beli sesuatu."

"Mwo? Lalu, apa bedanya Noona dengan 'BumBoom'?"

"Hhm...tapi kan aku meminta, tidak memalak. Boleh ya? Tidak usah banyak-banyak."

"Hhh~ ini!"

"Mwo? 100 won? Bisa jajan apa dengan 100 won? Paling hanya cukup untuk beli minuman."

"Hhh~ dengan 100 won, kau bisa membayar bensin motor selama seminggu."

"Ne, ne. Aku lupa kalau sekarang di tahun 1990. Mianhae, Yesung~ah," kata Wookie. Yesung mencibir, lalu berlari memasuki tempat lesnya. Wookie menarik napas dan melanjutkan perjalanannya ke Gedung SME. Setelah sampai, ia langsung memarkir sepedanya lalu berjalan perlahan sambil memperhatikan keadaan sekitar untuk menyusup masuk. Ia berlari ke lantai tiga dan mencari lukisan tersebut. Ternyata lukisan itu tidak ditemukannya di mana-mana. Wookie kelelahan dan duduk di lantai seraya menutup matanya.

"Mengapa lukisan itu tidak ada? Ayo Wookie berbikir. Hhh~"

"Tunggu....waktu itu di bawah keterangan lukisan tertulis 6 Juli 1990. Ya, itu dia! Lukisan itu akan dipasang tanggal 6 Juli 1990, tepat pembukaan gedung ini. Hari ini tanggal 30 Jumi 1990. Itu artinya, enam hari lagi aku bisa pulang," ucapnya pada dirinya sendiri. Dia tidak sabar mengatakan hal itu pada Yesung.

"Tapi kan, Yesung tidak percaya kalau aku dari masa depan. Tidak ada seorang pun yang memercayai ku. Tunggu dulu, mungkin Appa dan Eomma akan percaya. Aku harus pergi menemui mereka. Tahun 1990, berarti mereka masih kuliah. Ya! Aku ke kampusnya saja," ujar Wookie panjang lebar pada dirinya sendiri.
Dengan ide itu di kepalanya, Wookie menuruni tangga dan keluar gedung dengan hati-hati. Ia mengendarai sepedanya kembali dan bergegas menuju kampus orang tuanya. Sesampainya Wookie di depan kampus, ia memarkir sepedanya. Ia pun melaksanakan niatnya mencari Appanya di Fakultas Hukum, dan melihat ke dalam ruangan kampus yang ada di sana. Appanya tidak ada dimana-mana. Wookie lalu beranjak mencari Eommanya di Fakultas Pariwisata, lagi-lagi dia gagal menemukan Eommanya di sana. Wookie pun melangkah menuju sebuah bangku yang tak jauh dari Fakultas tersebut. Wookie duduk di sana untuk beristirahat terlebih dahulu. Tiba-tiba sebuah sepeda motor hitam memasuki area kampus. Pengendaranya menghentikan sepeda motornya tak jauh dari tempat Wookie duduk. Suara decitan rem membuat semua orang melihat ke arah pengendara motor itu. Di belakangnya, seorang yeoja turun dari boncengan dengan tenang. Sekilas Wookie melihat yeoja itu memakai celana jeans putih dengan baju pink tersenyum kepada pengendara sepeda motor itu. Rambutnya panjang sepundak, dan memakai poni. Kedua telinganya memakai sepasang anting besar. Dia memakai bedak yang tebal dengan eye shadow biru.

--tbc--
ditunggu RCL nya ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar